Pemeriksaan Kesehatan Caba PK TNI AD Gelombang II Kodam XV/Pattimura Diduga Sarat Rekayasa

IMG-20241207-WA0016

MediatorMalukuNews.com_ Proses penerimaan Caba (Calon Bintara) PK TNI-AD Gelombang II Kodam XV/Pattimura tahun 2024 diduga sarat rekayasa.

Dugaan rekayasa ini akibat terendus adanya permainan kotor oknum panitia tertentu, sehingga menutup peluang bagi putera daerah berprestasi Maluku menjadi prajurit TNI-AD.

Fenomena ini dialami Bryan Tuabara, salah satu Calon Siswa (Casis) ketika adanya unsur dugaan digugurkan secara sepihak pada tahapan kesehatan yang digelar pihak panitia penerimaan melalui Rumah Sakit (RS) Tingkat II Prof. dr. JA Latumeten, Ambon baru-baru ini.

Hasil pemeriksaan kesehatan yang dikeluarkan Panitia penerimaan (kiri) dan hasil pemeriksaan kesehatan yang dikeluarkan RS Siloam sebagai pembanding (kanan).

Diana Putnarubun, orang tua Casis bersangkutan kepada wartawan, Kamis (5/12/2024), membeberkan kekecewaannya terhadap hasil pemeriksaan kesehatan, dimana mengakibatkan cita-cita anaknya sejak kecil menjadi kandas.

Menurut perempuan ini, hasil pemeriksaan terhadap anaknya, dinyatakan gugur lantaran terjadi infeksi pada saluran urine sehingga anaknya tak bisa melanjutkan ke tahapan seleksi selanjutnya, padahal perihal yang menyatakan anaknya gugur di tahapan itu dinilai mengada-ada dan tak sesuai fakta.

“Dia (Anak Ny. Diana) dituduh suka konsumsi minuman keras. Tetapi kenyataannya dia tidak pernah, dan katanya urine bermasalah,” ujarnya

Dikatakan, lantaran tak puas dengan hasil tes kesehatan tersebut, esok harinya, Bryan anaknya melakukan tes pembanding di RS Siloam Ambon. Ternyata fakta membuktikan hasil yang diperoleh berbanding terbalik dengan apa yang disampaikan pihak panitia sebelumnya.
Sehingga perihal tersebut diakui
menimbulkan kecurigaan terhadap proses seleksi tersebut. Bahkan diakui, pihak keluarga casis bersangkutan pun mempertanyakan objektifitas kinerja kesehatan pihak panitia.

Menjadi pertanyaan, apakah hasil pemeriksaan kesehatan oleh pihak medis RS dr. Latumeten Ambon bisa berbeda dengan tes medis yang dilakukan pihak RS Siloam (?).
Sebab fakta hasil pemeriksaan di RS Siloam terbilang negatif seluruhnya sebagaimana yang disampaikan pihak panitia. Bahkan dari hasil pemeriksaan pihak RS Siloam menyatakan tak ada tanda-tanda infeksi saluran urine di tubuh Bryan.

Baca juga :   DPRD Maluku Ingatkan Pemprov Jangan "Bikin" Kebijakan Rugikan Masyarakat Soal Pengosongan Ruko Pasar Mardika

“Setelah diperiksa, bagus semua. Langsung dokter telpon ke Beta (Saya) selaku orang tua. Dan mengatakan ibu (Punya) kecil (Bryan) punya hasil bagus sekali,”tuturnya.

Diana menjelaskan, setelah mendapat hasil pemeriksaan dari RS Siloam, anaknya didampingi pamannya langsung mendatangi pihak Kesehatan Kodam (Kesdam) XV/Pattimura untuk mengkonfirmasi perbedaan hasil pemeriksaan kesehatan yang diperoleh dari RS Siloam dengan hasil dari pemeriksaan di rumah sakit pertama Bryan diperiksa. Sayangnya, pernyataan dari salah satu oknum dokter di Kesdam kalau hasil yang sudah diperoleh tersebut tidak dapat dirubah lagi

“Dari keterangan dr. Mirna, kalau tidak salah, dia bilang walau bagaimanapun itu tidak bisa dirubah karena sudah dikirim ke pusat,” ujar dia dengan nada kecewa.

Perempuan itu terus mengungkapkan kekecewaannya. Dia pun mempertanyakan apakah bisa dalam jangka waktu satu hari hasil pemeriksaan yang dilakukan di RS Siloam berbeda sangat dengan hasil pemeriksaan pihak medis di RS dr. Latumeten Ambon (?).

“Beta selaku orang tua beta kecewa. Karena anak punya semangat sangat luar biasa karena dari kecil dia punya niat jadi TNI. Mungkin karena katong (Kami) tidak ada biaya ya !?,” ujar perempuan setengah baya ini sambil tersedu-sedu menahan aliran air mata dari tangisan kekesalannya.

Baca juga :   Wali Kota Ambon Ajak Jemaat GBI Maluku Perteguh Iman dan Jaga Kedamaian

Dia mengaku kecewa sebab anak-anak yang berprestasi dan layak memperoleh kesempatan menjadi prajurit TNI sesuai cita-cita seperti puteranya harus terpaksa disingkirkan dengan alasan subjektif dan tak sesuai aturan rekrutmen sebenarnya.

Ia menambahkan, pada waktu pelaksanaan seleksi di tahapan pantoher daerah, kelompok anaknya ditemui Pangdam. Pada saat itu, ditanyakan kelebihan atau bakat dari anak-anak tersebut.
Dari, dari kelompok itu terdapat lima orang anak yang mempunyai bakat beladiri seperti tinju, dan beberapa jenis bela diri lainnya, dan ada yang mengangkat tangan saat itu.
Sementara anaknya- Bryan, dikatakan mempunyai bakat atau kelebihan berbahasa inggris. Dan saat itu, anaknya sempat diwawancarai oleh Panglima menggunakan bahasa asing tersebut.

“Setelah itu, Panglima tanya identitas orang tua. Dia (Bryan) jawab bapak-nya Polisi. Lalu panglima tanya bapak polisi kenapa mau tes tentara. Dia (Brian) bilang dia punya cita-cita (Tentara),” tutur Diana.

Perempuan ini menjelaskan, hati anaknya besar mengingat setelah diwawancarai Panglima, anaknya mengakui dirinya mendapat pujian kalau cara berbahasa Inggris anaknya sangat luar biasa.

Dengan adanya kejadian ini, dirinya sangat kecewa lantaran anak-anak berprestasi, salah satu termasuk anaknya harus digagalkan untuk mencapai cita-citanya dengan berbagai alasan yang dibuat-buat.

Diana berharap Panglima Kodam XV/Pattimura dan Panglima TNI segera menyikapi apa yang dialami anaknya dengan dugaan  kecurangan-
kecurangan yang sudah dilakukan oknum pihak panitia terhadap anaknya yang diduga menggagalkan cita-cita sebagai seorang anggota TNI AD.

Sementara itu, sebelum berita dipublikasi, Kepala Penerangan Kodam (Kapendam) XV/Pattimura coba dikonfirmasi awak media namun tidak dapat dihubungi sama sekali.

Sementara Kasipendam XV/Pattimura, Kukuh yang dikonfirmasi via pesan WhatsApp terkait perihal dimaksud l, hanya menyuruh wartawan menanyakan langsung ke pihak panitia.

Baca juga :   Tiga Hari Lagi, Capres ini Kampanye Akbar di Ambon

Yang disesalkan, seharusnya sebagai Kasipendam harus bisa memfasilitasi pihak media bertemu dengan panitia tetapi tidak sama sekali.

“Maaf pak saya ini cuma bawahan dan tidak membidangi tentang itu. Coba ditanyakan ke panitianya mungkin lebih paham ,” Tutur Kukuh dalam chatingan- nya

Ketika ditanyakan kira-kira siapa yang bisa dihubungi tetapi kukuh sebagai Kasi Pendam mengakui kalau tak paham, ironisnya dia menyuruh media menanyakan kepada keluarga yang memberikan informasi

“Maaf pak saya juga kurang paham  bagian panitianya, tanyakan saja kepada orang yang memberi informasi itu, mungkin lebih paham,”ujarnya dalam chatingan WhatsApp-nya.

Sampai berita ini dinaikan Kapendam belum dapat dihubungi, seharusnya sebagai Kasi Pendam Kukuh harus berkoordinasi dengan kapendam, namun terkesan tidak dilakukan sama sekali

Bukan saja pertama kali hal yang sama dilakukan oleh Kasi Pendam, beberapa kali dilakukan bahkan membuat pihak Kodam sepertinya gerah ketika diberitakan di publik.

Bahkan kapendam sendiri mengeluarkan statemen supaya pemberitaan harus dikonfirmasi terlebih dahulu sebelum dinaikan tetapi konfirmasi tersebut hanya sampai sebatas Kasi Pendam saja. (LR)