Kunjungi Rumberu SBB, Sisi Humanis Gubernur Terungkap, Ruas Jalan Inamosol Siap Dibangun

IMG-20260323-WA0011

MediatorMalukuNews.com_ Kunjungan Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa ke Desa Rumberu, Kecamatan Inamosol, Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB) dalam rangka Peresmian dan Pentahbisan Gedung Gereja Galed/ Jemaat GPM Rumberu, Klasis Kairatu membuka tabir sisi kemanusiaan dari seorang Hendrik Lewerissa.

Penilaian dari seorang tokoh masyarakat SBB, Gerald Wakanno terkait kunjungan itu adalah momen-momen dalam sejarah sebuah daerah yang tak cukup diukur dengan angka, tetapi dengan getaran haru yang menjalar di dada setiap orang yang menyaksikannya.

Berdasarkan rilis Wakanno ke media ini, Minggu (22/3/2026) di Pastori Gereja Rumberu, usai seremoni peresmian dan penahbisan Gedung Gereja Galed, Jemaat GPM Rumberu, suasana berubah menjadi lebih intens.

Camat Inamosol duduk di sisi kiri. Di hadapan gubernur, berjajar para kepala desa dan tokoh masyarakat yang selama ini menjadi ujung tombak perjuangan warga Inamosol.

Musa Tibalya, Raja Rumberu, dengan wibawa seorang pemimpin adat, membuka suara. Ia tak banyak berbasa-basi.

Sebagai putra daerah yang lahir dan besar di tanah ini, ia tahu persis apa yang paling menyakitkan rakyatnya, jalan. Jalur Waimital–Kawatu–Rumberu–Rambatu–Manusa yang rusak parah, setiap hari menjadi momok bagi warga yang ingin beraktivitas.

Daud Tenine, Penjabat Desa Rambatu menambahkan dengan nada tegas namun penuh harap. Ia menyebut bagaimana anak-anak sekolah terpaksa berjalan kaki berjam-jam, bagaimana ibu-ibu hamil harus ditandu karena tak ada kendaraan yang berani melintas. Pula, bagaimana hasil bumi membusuk sebelum sempat sampai ke pasar.

Baca juga :   Inflasi Provinsi Maluku Tetap Terjaga dalam Rentang Sasaran

Sementara tokoh masyarakat SBB, Gerard Wakanno. yang selama berbulan-bulan memimpin langsung tim penyusunan proposal pembangunan jalan Kecamatan Inamosol, mengatakan, dokumen itu bukan sekadar dokumen administratif, proposal itu adalah kristalisasi dari puluhan tahun penderitaan yang disusun dengan data, dengan peta, dengan kesaksian warga.

Di ruangan itu, Gerard bersama para kepala desa menyerahkan proposal tersebut ke tangan Gubernur Lewerissa, satu per satu mereka menyampaikan ironi terbesar. Jalan ini adalah jalan kabupaten, tetapi Kabupaten Seram Bagian Barat tak mampu menganggarkan-nya sendirian. Prosesnya panjang. Biayanya berat. Sementara rakyat Inamosol sudah lelah menunggu.

Gubernur Lewerissa tak memberikan jawaban diplomatis yang mengambang. Ia tak melemparkan persoalan ini ke kabupaten dengan dalih kewenangan. Ia menoleh ke samping, memanggil Kepala Dinas PUPR Provinsi yang turut dalam rombongan, lalu berdiskusi kemudian berdiskusi dengan Wakil Bupati SBB, Bapak Kainama.

Tigapuluh puluh menit, kata sebagian saksi. Waktu yang setimpal dengan 80 tahun lamanya warga Inamosol merindukan jalan yang layak.
Hasilnya? Sebuah terobosan yang membuat ruangan kecil itu mendadak sunyi, lalu bergemuruh dengan senyap haru. Ruas jalan Inamosol akan dibangun melalui skema Dana Inpres.

Baca juga :   Pertamina Patra Niaga Regional Papua Maluku Launching Program pada Pembukaan Bulan K3


Jalan kabupaten yang selama ini terbelenggu oleh keterbatasan anggaran daerah, akhirnya mendapatkan napas baru dari skema nasional. Sebuah keputusan cerdas yang memotong birokrasi berlapis yang selama ini menjadi tembok penghalang.

Di tengah euforia keputusan yang mengguncang ruang diskusi, ada satu elemen yang tak boleh dilupakan yaitu Ibu Gubernur.
Dalam video pendek yang diabadikan warga, tampak jelas perjalanan yang ditempuh pasangan pemimpin Maluku itu. Ibu Gubernur duduk di dalam mobil 4×4 yang merayap pelan di tepi tebing. Di luar, lumpur licin dan batu-batu besar mengintai. Setiap guncangan adalah bisikan jurang yang hanya berjarak beberapa sentuhan dari tapak ban.
Namun Ibu Gubernur duduk tenang. Ia memilih hadir. Ia memilih merasakan sendiri apa yang selama ini dirasakan warga Inamosol setiap hari.

Bagi masyarakat Rumberu, itu adalah pesan yang tak perlu diucapkan, pemimpin mereka dan keluarga benar-benar hadir, bukan sekadar datang.
Musa Tibalya, Raja Rumberu, hanya bisa menghela napas panjang setelah mendengar keputusan gubernur. Daud Tenine dan Abe Nyte mengangguk-
angguk, seolah tak percaya bahwa apa yang mereka sampaikan langsung mendapat respons nyata.

Baca juga :   10 Malam Terakhir Ramadan, Wakil Wali Kota Ambon Bagikan Paket Makanan Sahur Kepada Umat Muslim yang Beritikaf di Masjid

Gerard Wakanno, yang memimpin tim penyusun proposal, menyampaikan dengan nada bergetar:

“Kami sudah bertahun-tahun menyuarakan ini. Hari ini, kami melihat sendiri bagaimana seorang pemimpin bisa mengambil keputusan yang mengubah nasib sebuah wilayah. Pak Gubernur tidak hanya menerima proposal kami. Beliau mendiskusikan-
nya, lalu memutuskan dengan cepat. Itu adalah kelas kepemimpinan yang langka,” ujar Wakanno.

Hari itu, Minggu 22 Maret 2026, akan dikenang sebagai titik balik. Bukan hanya karena peresmian sebuah gereja, tetapi karena di Pastori Rumberu, seorang gubernur dan istrinya membuktikan bahwa pemimpin sejati adalah mereka yang berani datang ke tempat paling sulit, mendengar dengan sungguh- sungguh, dan memutuskan dengan keberanian.
80 tahun menanti.
30 menit memutuskan. Dan di sanalah sejarah dimulai.( Nicko Kastanja)