Ini Kata Wali Kota Ambon pada Sekolah Lapang Gempa Bumi dan Tsunami (SLG) 2026 yang Digelar BMKG

IMG-20261024-WA0016

MediatorMalukuNews.com_ Kesiapsiagaan masyarakat menjadi kebutuhan mendesak untuk mengurangi risiko korban jiwa ketika bencana terjadi.

Hal ini mengingat catatan sejarah, gempa bumi dan tsunami yang melanda ibu kota provinsi Maluku ini serta letak geografis di kawasan tektonik aktif.

Untuk memperkuat kesiapsiagaan tersebut, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menggelar Sekolah Lapang Gempa Bumi dan Tsunami (SLG) 2026 di Ruang Rapat Vlisinggen, Balai Kota Ambon, Sabtu (24/10/2026).

Wali Kota Ambon, Bodewin Wattimena
dalam sambutannya, mengingatkan, Ambon memiliki rekam jejak panjang bencana gempa bumi dan tsunami.

Diterangkan, peristiwa gempa dan tsunami pada 1674 serta gempa bermagnitudo 7,3 pada 1950 yang berdampak di kawasan Galala dan Hative Kecil.
Pengalaman gempa Ambon pada 2019 juga menjadi pengingat penting.

Menurut Wali Kota, ribuan kejadian gempa tercatat saat itu, termasuk gempa bermagnitudo 6,8 yang menyebabkan kerusakan bangunan.

“Bencana tidak mungkin kita hindari. Yang penting adalah bagaimana kesiapsiagaan kita supaya ketika bencana datang, kita bisa menghadapinya,” jelasnya.

Disampaikan, Pemerintah Kota Ambon telah menetapkan Peraturan Daerah Nomor 6 Tahun 2017 tentang Penanggulangan Bencana.
Pemerintah juga melakukan pemasangan rambu evakuasi serta memperkuat edukasi kebencanaan bersama BMKG dan mitra terkait.

Baca juga :   Safari Ramadan di Poka Wali Kota, Wawali dan Ketua DPRD Ambon Bagi 100 Paket Sembako

Anggota Komisi V DPR RI dari Fraksi PAN daerah pemilihan Maluku, Widya Pratiwi membuka kegiatan tersebut secara daring.
Istri mantan gubernur dan Kapolda Maluku ini menekankan pentingnya edukasi berkelanjutan agar masyarakat memahami langkah penyelamatan diri sebelum, saat, dan setelah gempa termasuk mengenali jalur evakuasi serta titik kumpul aman.

Kepala Stasiun Geofisika Kelas I Ambon, Sujabar menjelaskan, kegiatan ini secara khusus menyasar masyarakat Negeri Rumah Tiga, Desa Poka, dan Kelurahan Tihu, Kecamatan Teluk Ambon.

Melalui sekolah lapang ini, BMKG berharap masyarakat tak hanya memahami ancaman bencana, tetapi juga mampu bertindak cepat dan tepat untuk menekan risiko korban jiwa.

Kegiatan bertema: “Pahami Potensi dan Aksi Cepat terhadap Gempa Bumi dan Tsunami Menuju Indonesia Emas 2045” ini diikuti 55 peserta dari unsur pemerintah, TNI-Polri, Basarnas, tenaga kesehatan, pendidikan, media, perguruan tinggi dan masyarakat.(****)