Fasilitas Komputer Terbatas, 22 Siswa SD Gugus II Babar Timur MBD Dipaksa Ikut ANBK

IMG-20241029-WA0078

MediatorMalukuNews.com- Fenomena ini memang memprihatinkan bagi dunia pendidikan di wilayah terpencil. Walaupun fasilitas komputer terbatas, namun sebanyak 22 siswa Sekolah Dasar (SD) Gugus II, Kecamatan Babar Timur, Kabupaten Maluku Barat Daya (MBD) dipaksa mengikuti Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK) di wilayah kepulauan terluar yang berbatasan dengan Benua Kanguru dan Negara Timor Leste itu.

Bagaimana tidak, di Letwurung, tanggal 28 Oktober 2024 pukul 14-00 wit berlokasi di SMA Negeri 3 MBD, dilaksanakan Asesmen Nasional Berbasis Komputer Tahun Ajaran 2024-2025 untuk 22 siswa SD di Gugus II Kecamatan Babar Timur
yang berasal dari tiga SD berbeda di wilayah setempat. Sekolah itu antara lain: 1). SD Negeri ilwiar sebanyak 3 siswa, 2). SD Negeri Nakramto 4 siswa, dan 3). SD YPPK Yatoke sebanyak 15 siswa.

Sesuai laporan, tiga sekolah ini mengalami kesulitan mengikuti kegiatan tingkat nasional itu, sebab adanya keterbatasan sarana komputer untuk menyiapkan peserta didik menguasai komputer tersebut.
Keterbatasan fasilitas ini lantaran tiap sekolah di wilayah setempat hanya punya satu unit komputer yang dipergunakan secara bergantian oleh sekian banyak siswa untuk mengoperasikan perangkat komputer ketika proses pelaksanaan kegiatan ANBK.

Baca juga :   Jalan Milik BPJN Maluku di Pulau Babar MBD Tambal Sulam

Ketua Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S) Gugus II Kecamatan Babar Timur, Ny. D. Unmehopa mengaku pihaknya sangat sulit mempersiapkan anak-anak atau siswa peserta didik mengikuti proses ANBK.

“(Fakta) Ini sudah bertahun-tahun terjadi karena keterbatasan perangkat komputer di sekolah. Jadi kami harus antri (Gunakan) komputer desa karena ada jaringan Wifi. Tapi kalau jam itu, jika di desa ada staf sementara bekerja juga, maka kami batal belajar,”beber Unmehopa.

Ny. Unmehopa berharap kepada pihak pemerintah jika asesmen ANBK masih tetap berlaku, maka para siswa di sekolah dasar di wilayah tersebut tetap jadi korban bila sekolah -sekolah tak dipersiapkan dengan sarana internet dan sejumlah komputer yang memadai.

Perempuan ini berharap jika ke depannya minimal pelaksanaan ANBK dapat dilaksanakan di setiap gugus dengan lancar tanpa hambatan sehingga para generasi penerus bangsa ini dapat mengenyam pendidikan dengan baik untuk menggapai masa depan.

“Bayangkan di gugus kami ada siswa yang harus menempuh perjalanan 25 kilometer melewati jalan yang rusak hanya untuk ikut asesmen ini,” ungkap dia prihatin.

Baca juga :   Sepakat Lakukan Survey Lokasi Rawan Kecelakaan Bersama Dengan Stakeholder, Jasa Raharja Gelar FKLL

Unmehopa berharap pemerintah dalam hal ini kementerian pendidikan bisa melihat kesulitan yang dihadapi daerah 3T (Tertinggal, Terjauh Terluar) seperti di wilayah kabupaten julukan Kalwedo’ ini – yang berbatasan dengan dua negara asing tersebut.

Salah satu siswa SD Kristen YPPK Yatoke, Sophia Tika Kerlely kepada wartawan media ini juga mengakui perihal senada usai mengikuti ANBK.

Sophia mengaku di sekolahnya terdapat 15 siswa yang mengikuti asesmen. Dan untuk menguasai komputer bocah ini mengaku harus antri atau bergantian menggunakan satu komputer yang dimiliki pihak sekolah bersangkutan.
Sehingga dia dan teman-temannya tak begitu menguasai proses pengoperasian komputer dengan baik. Padahal diakui para siswa ingin sekali menguasai komputer, minimal cara membuka, mengakses jaringan internet, menyimpan data serta menutup Komputer dan lainnya.

Kendati demikian siswa sekolah dasar ini mengaku, mereka mau tak mau harus mengikuti proses asesmen dengan kondisi keterbatasan sarana tersebut. Sebab perihal itu sudah menjadi aturan.

Salah satu orang tua siswa kepada media ini juga mengaku hal yang sama. Dia bahkan mengungkapkan kekecewaannya dengan program pemerintah tanpa memperhatikan kelengkapan fasilitas masyarakat yang tinggal di daerah 3T.

Baca juga :   Perarakan Arca Kristus Raja Semesta Alam Diapresiasi Pemkot Ambon

Dia katakan: “Anak-anak kami hanya dipaksa untuk ikut asesmen nasional berbasis komputer ini, padahal sekolah yang ada di sini tidak punya fasilitas internet dan komputer yang cukup”.

Sementara itu, pihak Dinas Pendidikan Kabupaten MBD belum berhasil dikonfirmasi terkait perihal tersebut. (Eky)