Sebelum Hari Raya Nyepi, Ini Kata Ketua PDHI Kota Ambon
MediatorMalukuNews.com_ Sebelum Hari Nyepi, umat Hindu di Kota Ambon melakukan ritual perarakan ogoh- ogoh.
Kegiatan tersebut berlangsung di Gong perdamaian,Rabu (18/3/2026).
Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kota Ambon, Ida Bagus Dwibawa menyampaikan,
tokoh dalam pawai ogoh – ogoh yakni Buto Ijo dan Buto Lari. Keduanya merupakan simbol penting mengingatkan dan menyadarkan manusia mengingat jati dirinya sebagai insan ciptaan Tuhan.
Dikatakan, Nyepi merupakan waktu untuk hening dari segala aktivitas dunia.
“Nyepi adalah sebuah perubahan untuk keheningan di tengah dunia yang sementara bising oleh hiruk pikuk, baik informasi, persaingan dan ambisi,” katanya.
Untuk itu, umat
Hindu tak melakukan aktivitas dunia (Catur brata penyucian) yaitu, tidak menyalakan api, tak bekerja, tidak bepergian dan tidak menikmati liburan.
Di tempat yang sama, Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa dalam sambutannya menyampaikan, momentum yang berdekatan antara Nyepi dan Idul fitri merupakan simbol kuat keberagaman yang harmonis di Indonesia, khususnya di Maluku.
“Ini merupakan momen yang sangat istimewa, karena dua hari besar keagamaan dirayakan hampir bersamaan. Hal ini menunjukkan bahwa kita adalah bangsa yang kaya akan keberagaman, namun tetap mampu hidup dalam harmoni dan persaudaraan,” kata Lewerisa.
Dikatakan, Nyepi dan Idul Fitri memiliki nilai sejalan, yakni mengajarkan pengendalian diri, penyucian jiwa, serta membangun hubungan yang harmonis antara manusia dengan Tuhan, sesama manusia dan alam semesta.
“Perbedaan keyakinan bukanlah pemisah, tetapi kekuatan yang memperkuat persatuan bangsa,” tegas orang nomor satu Maluku ini.
Dalam pawai tersebut, masyarakat Kota Ambon menyaksikan simbol Buto Ijo dan Buto Lari yang menjadi bagian dari ogoh-ogoh.
Buto Ijo melambangkan nafsu yang tak terkendali, seperti keserakahan, kemarahan dan kekuasaan tanpa batas. Sedangkan Buto Lari melambangkan ketidakdewasaan spiritual, ego besar, emosi yang mudah tersulut, serta kecenderungan menyalahkan orang lain.
Kedua simbol ini mengandung pesan moral bahwa konflik dalam kehidupan manusia sering kali berawal dari ketidakmampuan mengendalikan diri. Oleh karena itu, dalam tradisi Hindu, ogoh-ogoh tidak untuk dipuja, melainkan sebagai pengingat dan sarana introspeksi diri.
Adapun tema hari Nyepi,Tahun Baru Saka 1948/ 2026 Masehi yaitu; ‘Vasudaiva kutumbakam, satu bumi satu keluarga.’ (*)
