Pemkot Ambon Nyatakan Komitmen Merajut Kerukunan Antar Umat Beragama

IMG-20260917-WA0010

MediatorMalukuNews.com_ Pemerintah Kota (Pemkot) Ambon menyatakan komitmen merajut kerukunan antar umat beragama dan mengantisipasi potensi konflik sejak dini.

‎Untuk memperkuat peran preventif dibanding sekadar bertindak saat konflik telah terjadi, sangat penting sinergi Pemkot, Forkopimda dan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB).

‎“Kita tidak ingin seperti pemadam kebakaran—nanti ada konflik baru kita turun. Yang kita inginkan adalah langkah-langkah antisipatif dan tindakan preventif agar tidak timbul kejadian yang merugikan masyarakat,” tegas  Wali Kota Ambon, Bodewin Wattimena usai menghadiri rapat koordinasi bersama unsur Forkopimda dan FKUB di Balai Kota Ambon, Rabu (16/9/26).

Pada  kesempatan tersebut, Wali Kota  mendorong seluruh tokoh agama yang tergabung dalam FKUB secara aktif menyampaikan berbagai pesan perdamaian dan toleransi melalui mimbar ibadah, baik khotbah Jumat, khotbah Minggu maupun ritual keagamaan Hindu dan Buddha.

‎Selain  edukasi di rumah ibadah, Pemkot Ambon merekomendasikan program FKUB Menyapa Sekolah, melalui kegiatan seperti: menjadi pembina upacara di sekolah-sekolah, para tokoh agama dapat memberikan pemahaman langsung kepada para siswa dan guru mengenai pentingnya menjaga kerukunan serta menghindari perilaku destruktif.

‎“Generasi muda adalah penerus keberlanjutan kota ini. Anak-anak muda kita harus terus dibentengi dari bahaya balap liar, narkoba, minuman keras, hingga tawuran,” katanya.

‎Wali Kota pun mengimbau seluruh lapisan masyarakat jangan mudah terprovokasi dan menghentikan penyebaran berita bohong (hoaks) di media sosial yang dapat memperkeruh situasi Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Kamtibmas).

Baca juga :   Pemkot Ambon-Telkom Teken Kerjasama Penyediaan Layanan Internet

‎Penafsiran informasi yang salah atau belum terverifikasi sangat berpotensi memicu ketegangan yang tidak perlu.

‎Sebagai langkah konkret merawat kearifan lokal, Pemkot Ambon bersama FKUB dan instansi terkait terus menguatkan program Desa/Kelurahan Toleransi di beberapa kawasan seperti Wayame, Hative Kecil, Latta, Nania, Waiheru dan Passo.

‎Tak hanya itu, revitalisasi budaya Panas Pela dan Panas Gandong akan terus didorong sebagai laboratorium sosial untuk memberikan pembelajaran sejarah bagi generasi muda.

‎”Melalui nilai kearifan Pela Gandong, generasi muda diajak memahami bahwa perselisihan dan kekerasan hanya membawa kerugian. Kita ingin semua warga menyadari bahwa kita tidak hidup sendiri di kota ini, dan kebersamaan adalah fondasi utama pembangunan Kota Ambon,” pungkasnya.(****)