Tak Benar Isu Pengusaha di Saumlaki Timbun Beras
MediatorMalukuNews.com – Andre Liem, pengusaha muda ternama di Saumlaki, ibukota Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Provinsi Maluku mengatakan, menyikapi isu dugaan penimbunan beras mengakibatkan kelangkaan beras di pasaran kota Saumlaki dan sekitarnya, isu itu sama sekali tidak benar.
Pengusaha muda dan pemilik Toko Sinar Mas Saumlaki yang dikenal familiar dan komunikatif ini membeberkan bahwa mata rantai proses pendistribusian beras cukup kompleks, ini diakuinya terjadi selama ini.
Sehingga dibilang bahwa dugaan distributor/pengusaha sengaja menahan penjualan beras hingga terjadi kelangkaan bahan pokok ini di lapangan, spontan pria mengaku hal itu tak benar sama sekali.
Ditegaskan dia bahwa, jika menahan beras itu tak ada gunanya sebab bila beras terus disimpan maka akan rusak, padahal sebagai pengusaha butuh perputaran modal, sehingga beras harus dijual secepatnya kepada masyarakat agar tak menjadi busuk di gudang. Sehingga diakuinya saat ini beras memang belum tersedia.
“Jual sekarang, harga bagus, jadi tidak benar distributor tahan beras. Saat ini benar-benar beras memang kosong. Sebelumnya bulan-bulan lalu beras tidak laku sama sekali, karena langganan beras kebanyakan hanya cari beras bulog” imbuh Andre pengusaha muda ini, Selasa (12/12/2023).
Dikatakan kelangkaan beras yang terjadi saat ini adalah rentetan peristiwa yang terjadi beberapa bulan lalu, dimana secara mengejutkan daya beli masyarakat menurun jauh terhadap beras yang disediakan mulai dari jenis beras medium dan beras premium dalam kemasan 5 kg, 10 kg, 19 kg dan 50 kg.
Sontak pengusaha inipun ingin tahu penyebabnya, ternyata fakta di lapangan dari pelanggan dan masyarakat banyak yang beralih ke beras Bulog, dengan perhitungan beras bulog kwalitas sudah bagus, harga lebih murah dan mudah didapatkan di sejumlah mitra Bulog dan Kios-kios di pasaran pusat kota Saumlaki.
“ Kami bingung, saat itu stok sekitar 4000 sampai 5000 karung beras kurang jalan, apalagi beras karung kuning sama sekali tidak terjual, daya beli menurun jauh, tahun lalu bisa sampai 200 sampai 300 ton terjual, tahun ini hanya sekitar 20 sampai 40 ton yang terjual, setahu saya beras Bulog adalah stok beras daerah, yg akan menjaga ketahanan pangan rakyat, tapi yang membingungkan saat beras pengusaha banyak di pasaran, beras Bulog banyak juga beredar di pasaran” jelas Andre heran.
Kendati hadapi situasi sulit, Andre sempat booking beras ke Tanimbar sebanyak-banyaknya tapi hanya dapat 2 kontainer saja, itupun beras dari Makassar karena harga beras Surabaya sudah melambung tinggi akibat gagal panen berkepanjangan di Pulau Jawa.
Dikatakan, akibat harga beras Surabaya melambung tinggi, maka inisiatif pengusaha muda ini mendatangkan beras dari Makasar lalu dikirim ke Surabaya, kemudian dengan kapal Telmas kirim lagi ke Saumlaki, hingga terjadi dobel biaya angkutan, namun perhitungan Andre masih lebih murah dibanding beli beras di Surabaya.
“ Saat ini sudah tidak ada Kapal Tol Laut sampai tahun depan. Biaya kontainer reguler Rp.24 juta- daya muat kontainer 20 ton saja, beda dengan jamannya kapal Mentari per kontainer bisa muat sampai 25 ton.
Estimasi perkilo beras naik Rp.1.500,- menjadi Rp.14. ribu perkilonya.itupun masih aman karena dimuat dengan kontainer.” tandas pengusaha berusia 35 tahun ini.
Kepala Gudang Bulog Saumlaki, Ronal Tuhilatu yang dikonfirmasi perihal twrsebut imenjelaskan terkait peredaran beras Bulog di pasaran bebas kota Saumlaki yang bukan Mitra Bulog adalah kewenangan Disperindag Kabupaten Kepulauan Tanimbar untuk menertibkannya.
Di lain pihak pengusaha muda itu optimis sebagai distributor/pengusaha sudah menjadi tugas antisipasi ketersediaan barang dalam rangka menjelang akhir tahun jelang Natal dan tahun baru sehingga sudah pasti seperti terigu, gula, minyak goreng dan lainnya selama ini dipenuhi dengan baik untuk permintaan konsumsi masyarakat setempat (JK)
