Beras Bulog “Liar” Dilaporkan Masuk Tanut, Kabulog dan Pemda Tanimbar Diminta Tertibkan
MediatorMalukuNews.com – Beras Bulog yang diduga “Liar” alias ilegal dilaporkan banyak dipasok tidak sesuai aturan dari pelabuhan Kota Tual – Maluku Tenggara masuk ke Larat, ibukota Kecamatan Tanimbar Utara (Tanut), Kabupaten Kepulauan Tanimbar. Fenomena ini membuat Sejumlah pengusaha beras Tanut meradang.
Mereka mengaku resah dan bingung, sembari merasa dirugikan oknum tidak bertanggung jawab soal bisnis beras Bulog yang disinyalir tidak sesuai aturan tersebut.
“Kita selaku pengusaha tak paham adanya pendistribusian dan penjualan beras Bulog tak sesuai aturan di wilayah ini. Kita sebagai pengusaha beras di toko – toko kota Larat bingung dengan pemandangan ini,” lapor sejumlah pengusaha beras baru-baru baru ini (24/02/24) kepada wartawan.
Pengusaha yang enggan mempublikasikan namanya mengatakan, akibat peredaran beras Bulog yang diduga ilegal ini maka dipastikan akan mengganggu keseimbangan stabilitas penjualan dan stok beras pada umumnya, sebab sesuai pengamatan, sejumlah pedagang beras non bulog yang didatangkan dari Surabaya mengaku merugi dan tak bisa menjual beras sebab tersaingi dengan kehadiran beras bulog di pasaran lokal wilayah tersebut.
“ Dengan beredarnya bebas penjualan beras bulog, penjualan beras kami merosot jauh, bagaimana kita bisa jual beras ikut harga beras Bulog, modal kami beli beras di Surabaya saja sudah Rp. 14 ribu sampai Rp.14, 5 ribu perkilo, pasaran bisa kacau. Kami tidak mampu jual beras, dan bisa dibayangkan apa jadinya bila kami memilih menyerah dan stop untuk tidak kasih masuk beras (Dari Surabaya) ke Larat lagi.” keluh sumber.
Pantauan media ini diduga kuat adanya oknum-oknum tertentu “Bermain” membekingi pasokan beras Bulog dari pelabuhan Kota Tual dengan kapal Feri rutin se-minggu sekali, pada hari Kamis. Feri itu dari Pelabuhan Tual datang ke Larat menggunakan surat jalan tertentu dan diduga aktifitas liar tak sesuai aturan ini telah berlangsung sejak Desember 2023.
“ Tiap minggu, hari Kamis, Km. Feri dari Tual masuk ke Larat dengan beras Bulog sekitar 20 sampai 30 ton, baru jual mahal Rp. 14 ribu perkilo, bahkan kelangkaan beras Desember 2023 tahun lalu, melonjak hingga Rp.15 ribu per kilo. Ini bukan bantu masyarakat lagi tapi menyusahkan masyarakat,” beber sumber.
Untuk itu, sejumlah pengusaha beras di Larat – Tanut meminta pihak Bulog setempat dan Pemda Kabupaten Kepulauan Tanimbar menyikapi dan menertibkan hal ini agar tidak menjadi keluhan dan kecemburuan sosial di kalangan para pengusaha beras di kota kecamatan ini.
Kepala Dinas Perdagangan Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Neles Batmomolin yang dikonfirmasi via telepon selulernya soal legal tidaknya perijinan pendistribusian beras itu, serta maraknya dugaan peredaran beras Bulog ilegal belum bisa terhubung dengan baik.
Kepala Gudang Bulog Saumlaki, Ronald Tuhilatu sebagai pemenang mandat pengelola Cadangan Beras Pemerintah (CBP) untuk ketahanan dan kedaulatan pangan serta penyaluran dan peruntukannya sesuai penugasan dengan dibatasi aturan dan kebijakan Pemerintah untuk wilayah distribusi beras di wilayah Kabupaten Kepulauan Tanimbar ketika dikonfirmasi via WhatsApp -nya hanya menjawab: “Nanti saya konfirmasi dulu ke Tual, mereka cek dulu, lalu lihat bagaimana selanjutnya.” dalih Roland singkat. (Jk)
