Antisipasi Permainan Tengkulak, Bulog Maluku Terjunkan Tim Jemput Gabah

Oplus_131072

MediatorMalukuNews.com_ Mengantisipasi terjadinya permainan nakal para tengkulak di lapangan, pihak Perum Bulog Wilayah Maluku sudah menerjunkan Tim Jemput Gabah ke beberapa titik penyerapan gabah/beras petani lokal di wilayah Provinsi Maluku yang menjadi lokasi sentra produksi beras.

“Sudah sepekan lebih ini kita telah bentuk tim jemput gabah/beras. Dan tim ini sudah diterjunkan ke lapangan untuk siap jemput dan membeli gabah atau beras milik petani yang tersedia di Pulau Buru dan Pulau Seram,” kata Manager Supply Chain & Pelayanan Publik (SCPP) Bulog Kantor Wilayah (Kanwil) Maluku, Jeffry Tanasy kepada Mediator Maluku News di ruang kerjanya, baru-baru ini (3/2/2025).

Dikatakan, ini dilakukan semata-mata sebagai bentuk keseriusan pemerintah dibawah kepemimpinan Presiden Prabowo yang memperhatikan masyarakat, khususnya usaha pertanian yang dimiliki para petani lokal dalam rangka memenuhi upaya swasembada pangan yang digalakkan pemerintah saat ini.

Selain itu, upaya yang dilakukan pihak Bulog pun ikut menghindari para “pemain beras” mempermainkan harga kebutuhan bahan pokok yang satu ini dengan cara yang tak elok untuk merugikan petani. itulah mengapa, ada instruksikan pihak Bulog Pusat supaya turun langsung ke lapangan ketika musim panen padi tiba.

Baca juga :   Pertamina Patra Niaga Regional Papua Maluku - Hiswana Migas Maluku Utara Salurkan Bantuan Logistik

“Ini dilakukan agar menutup peluang bagi para tengkulak bisa ‘bermain’ harga gabah/beras milik petani,” tandas Jeffry.

Strategi yang dilakukan ini sebelumnya diawali dengan mendatangi para petani di titik-titik penyerapan, sekaligus melakukan sejumlah sosialisasi soal harga gabah/beras.
Ketika itu, bilamana ada petani hendak menjual gabah atau beras, maka tim bersangkutan langsung membeli dengan standar harga premium per kilogram untuk gabah kering Rp.6.500, sedangkan untuk beras per kilogram Rp.12 ribu.

Tentunya pembelian hasil petani ini sesuai standar Harga Pokok Penjualan (HPP) yang ditetapkan Badan Pangan Nasional Nomor 14 Tahun 2025 yang diterbitkan per 24 Januari 2025 belum lama ini.

Dikatakan, untuk sentra produksi beras di Maluku ada empat wilayah, yakni, Kabupaten Buru, Gemba-Seram Bagian Barat (SBB), Kobi-Seram Bagian Timur (SBT) dan Kabupaten Maluku Tengah (Malteng). Namun sentra produksi beras yang berbeda di empat wilayah ini, Kabupaten Buru yang lebih mendominir, disusul SBB dan SBT, kemudian Malteng.

Menurut lelaki low profile ini, pada umumnya sesuai karakteristik di wilayah Maluku, rata-rata para petani padi menjual hasil pertaniannya bukan dalam bentuk gabah kering melainkan dalam bentuk beras yang sudah dibersihkan terlebih dahulu. Artinya setelah padi dipanen, kemudian petani sendiri memprosesnya, mulai dari penuaian, penjemuran, penggilingan. Dan terakhir butiran beras yang sudah jadi/bersih selanjutnya siap dipasarkan.

Baca juga :   Musda II PDK Kosgoro 1957 Resmi Digelar

“Dan sesuai harga pembelian hasil petani ini meningkat bila dibandingkan tahun 2024. Dimana untuk gabah kering per kilogram Rp.6.500. sedangkan beras bersih Rp.12 ribu,” tandas Jeffry.

Dia menambahkan, hingga Februari 2025 ini, Bulog Wilayah Maluku mempunyai stok ketersediaan beras mencapai 14 ribu ton. Dimana 11 ribu ton di tampung di gudang Kanwil Maluku (Untuk wilayah Kabupaten Buru, Buru Selatan, SBB, SBT, Malteng dan Pulau Ambon). Sedangkan untuk gudang Bulog Cabang Langgur atau Tual (Wilayah Kabupaten Maluku Tenggara, Kota Tual, Kepulauan Tanimbar, Kepulauan Aru, dan Kabupaten Maluku Barat Daya) tertampung 3 ribu ton.

“Stok ini tentunya dipastikan mencukupi ketersediaan beras untuk memenuhi kebutuhan masyarakat menjelang bulan Ramadhan dan Lebaran 2025 bahkan lebih,” tandas manager SCPP Bulog Kanwil Maluku ini. Sembari tambahkan, penyaluran beras Bulog tiap tahun untuk bahan konsumtif di Provinsi Maluku berkisar antara 15 ribu ton hingga 20 ribu ton. (****)