Dianggap Tak Relevan, Ketua Fraksi PKS DPRD SBB Kritisi Spesifikasi Bantuan Kapal Nelayan 1,5 GT

Oplus_131072

MediatorMalukuNews.com_ Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (F-PKS) DPRD Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB) memberikan catatan kritis terkait program bantuan Dinas Kelautan dan Perikanan kabupaten SBB.

Ketua Fraksi PKS, La Ode Risno Judin, menyoal bantuan Kapal 1,5 grass tonase (Gt) yang dibagikan pihak dinas terkait kepada para nelayan di SBB. Katanya, meski secara prinsip tak bermasalah tetapi proses perencanaannya dinilai tidak tepat.

“Bantuan Kapal 1,5 GT itu, bentuk body (kontruksi) tidak pas dengan kebutuhan nelayan yang sebagian besarnya adalah nelayan ikan Tuna di laut dalam, kalau beta lihat spesifikasi kapal yang lebar kayak begitu dengan mesin 15 PK tidak” ujarnya kepada wartawan setelah rapat paripurna belum lama ini (29/9/2025) di Kantor DPRD Sementara di Kecamatan Kairatu.

Anggota DPRD Daerah Pemilihan Huamual Belakang dan Kepulauan Manipa itu menjelaskan, kontruksi ‘body fiber’ yang diberikan dinas bersangkutan tidak ramah BBM jika digandeng dengan mesin 15 PK. Selain itu, juga tak aman dipergunakan di laut dalam yang situasi gelombang perairan cukup dinamis.

Baca juga :   Pemkot Ambon Gelar Nobar Bola Timnas Vs Australia di Lapmer

“Beta (Saya) juga bagian dari masyarakat pesisir dan bergaul akrab dengan para nelayan, kondisi body kapal/perahu penangkap ikan yang seperti itu bisa menyebabkan nelayan keteteran dalam penggunaan BBM, selain itu bentuknya tidak sesuai standar untuk memancing di laut dalam. Agak rawan,” ulasnya.

Bahkan wakil rakyat ini yakin, jika bantuan tersebut diserahkan ke nelayan maka mereka akan cenderung untuk memarkirkan body fibernya. Karena itu, Risno meminta Dinas terkait mencari alternatif lain supaya dari tahun ke tahun tak ada bantuan mubazir.

Anggota Legislatif asal Pulau Kelang itu menyayangkan Pemerintah Daerah yang tidak memaksimalkan potensi sumber daya Pekerja Body Fiber yang ada di SBB.

“Di SBB ini kan banyak pekerja body Kapal/ perahu penangkap ikan yang tidak kalah terampil. Ada orang Huamual dan Huamual belakang yang bisa direkrut untuk pembuatan kapal/ perahu penangkap ikan yang sesuai dengan spesifikasi penangkapan di laut dalam,” ulasnya.

Untuk persoalan ini, menurutnya bukan hanya masalah kontraktor pengadaan bantuan yang perlu dievaluasi, tetapi juga PPK-nya karena bantuan ini mahal jadi harus disesuaikan spesifikasinya.
“Buat apa pengadaan barang yang sudah mahal tetapi tidak difungsikan dengan baik oleh para nelayan, inikan merugikan nelayan dan daerah.

Baca juga :   PPI Gelar Halal Bi Halal, Lekransy : Moment Yang Patut Disyukuri

Dia menambahkan, body fiber yang diberikan Dinas terkait hanya bisa digunakan di daerah pesisir saja, dan tidak aman untuk laut dalam.

“Kalau mau digunakan di laut dalam, maka body fibernya harus direhab lagi bentuk fisiknya, agar aman,” tutupnya.
(***)