Selain Potensi Wisata, Pulau Osi Miliki Potensi Perikanan Menjanjikan
MediatorMalukuNews.com_Pulau Osi yang terletak di Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB) selama ini terkenal dengan potensi wisatanya yang begitu indah, baik wisata budaya maupun alam. Selain itu, ada pula kumpulan penginapan terapung yang menawarkan potensi pemandangan wisata tepi laut dan hutan manggrove.
Bukan itu saja, Pulau Osi ternyata memiliki potensi perikanan menjanjikan.
Pulau ini merupakan petuanan negeri adat atau Desa Etty terletak di Kecamatan Seram Barat, Kabupaten SBB.
Di Pulau Osi terdapat berbagai jenis ikan dan sejumlah biota laut seperti teripang, rumput laut, siput dan kerang dan berbagai jenis lainnya.
Semy, salah satu warga Pulau Osi yang ditemui media ini di Piru, pusat ibukota kabupaten bertajuk ‘saka mese nusa’ itu, akhir pekan kemarin (18/10/2025) mengungkapkan, untuk potensi ikan di pulau Osi kerap ditangkap nelayan rata-rata ikan berukuran dasar (demersal) yang hidup di terumbu karang, seperti ikan batu – batu bukan ikan melayang (pelagis).
Menurutnya, hasil perikanan dari nelayan tangkap di wilayah yang terkenal dengan sebutan ‘dusun jembatan panjang’ itu adalah dikonsumsi sendiri, dijual ke Kota Ambon atau pun untuk ekspor secara nasional.
Untuk kebutuhan ekspor, terbanyak biasanya ikan jenis kerapu berbagai jenis seperti kerapu kepala singa, kerapu macan, kerapu mulut tikus, kerapu gunting, kerapu napoleon dan kerapu merah/sunuk.

Ketika hasil tangkapan banyak maka para nelayan biasanya mengawetkan tangkapannya dengan membuat ikan asin terutama ikan batu- batu. Selain pengasinan pengolahan juga dilakukan dengan cara pengasapan atau asar.
Untuk pengasapan ini sering digunakan ikan sardine yang diasar dengan tatakan bambu yang dinamakan “waya” dengan jumlah tiap tatakan 7- 8 ekor.
Untuk melakukan penangkapan ikan, menurut Semy, para nelayan Pulau Osi biasanya melaut di sekitar Pulau Osi dan Pulau Marsegu.
Sementara untuk hasil perikanan rumput laut, nelayan setempat juga membudidayakan rumput laut yang masa panennya 30- 40 hari. Hasil dari panen tersebut biasanya dijual langsung kepada para pengepul dari Ambon. Pasalnya, saat ini belum ada perusahaan yang bergerak di bidang itu.( Nicko Kastanja)
