Soal Distribusi MBG di Maluku, Ini Beberapa Tantangan yang Dihadapi

IMG-20251217-WA0001

MediatorMalukuNews.com_ Kepala Dinas (Kadis) Kesehatan Provinsi Maluku, Yan Aslian mengatakan, pihaknya mendukung program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang dicanangkan Pemerintah dibawah pimpinan Presiden Prabowo Subianto
melalui visi Asta Cita
untuk meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM) generasi muda penerus bangsa. Namun untuk memperlancar program MBG di Maluku, ada beberapa tantangan yang dihadapi di daerah ini, antara lain: tantangan geografis, integrasi dan Sumber Daya Manusia (SDM).

Demikian dikatakan Yan Aslian dalam kegiatan Coffee Morning yang diselenggarakan Dinas Kominfo Provinsi Maluku di Cafe The View, Karpan, Kota Ambon, Selasa (16/12/2025).

Kegiatan yang bertemakan:
“Ketahanan Pangan Mendukung MBG di Provinsi Maluku” itu,
banyak hal dibicarakan, dimana menghadirkan pembicara Kadis Kesehatan, Yan Aslian,
Kadis Ketahanan Pangan Maluku, Faradila Atamimi, Kadis Pertanian Provinsi Maluku, Ilham Tauda, Kabid SMA Dinas Pendidikan Maluku, Fence Mandaku, dan Kepala Kantor Pemenuhan Gizi Regional Maluku, Rosita, dan Kadis Kominfo Maluku, Melki Lohy sebagai pendamping pimpinan instansi tersebut.

Kadis Kesehatan itu mengatakan, Provinsi Maluku merupakan daerah kepulauan yang cukup luas, sehingga salah satu hal yang menjadi tantangan adalah faktor geografis. Sebab soal penyediaan pangan untuk kebutuhan MBG yang didistribusikan kepada para siswa. Sehingga perlu dipikirkan penggunaan pangan lokal untuk dipergunakan sebagai pemenuhan gizi bila terjadi keterlambatan pasokan pangan di daerah – daerah kepulauan.

Baca juga :   Pemerintah Kota Ambon Gelar Nikah Massal Bagi 100 Pasutri 

Tantangan berikutnya, kata Kadis Kesehatan Maluku ini menyangkut integrasi Data dan Sistem. Dalam hal ini, bahwa terbatasnya integrasi data efektif dan tingkat kepatuhan operator logistik yang minim untuk mengikuti sistem logistik nasional yang efisien untuk pendistribusian MBG ke pihak penerima manfaat dalam hal ini siswa di sekolah – sekolah, terlebih yang sekolah – sekolah yang terdapat di wilayah kepulauan terluar, terjauh dan tertinggal.

Kemudian, tantangan berikutnya, menurut Yan Aslian soal ketersediaan SDM.
Kata dia, dalam program MBG perlu diperhatikan SDM dari pihak penyedia menu yang mau disajikan kepada para siswa atau melalui
Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) mulai dari dapur umum atau unit operasional yang tugasnya memproduksi, mengemas dan menyalurkan makanan bergizi dan higienis untuk para siswa di sekolah, sekaligus memastikan terpenuhinya nutrisi untuk mendukung tumbuh kembang para generasi penerus bangsa itu. Oleh karena itu, menyangkut SDM ini perlu dibina dengan baik dan benar sesuai standar operasional atau SOP sehingga safety, dan pada akhirnya tidak berdampak buruk bagi para penerima manfaat dan mencegah hal -hal yang tak diinginkan seperti pernah terjadi ada siswa keracunan di Maluku akibat MBG tak dikelola dengan baik dan benar.

Baca juga :   Danlanud Dominicus Dumatubun Hadiri Kirab Bendera Merah Putih di Pulau Kei Besar

Dia mengaku, perihal
MBG tentunya dari sisi kesehatan pihaknya terus memantau standar gizi menu, sebab pihaknya juga merasa bertangungjawab soal keselamatan siswa di sekolah. Untuk itu, pihaknya menerbitkan sertifikat bagi penyedia MBG yang betul-betul melaksanakan SPO.

“Ini semua kita lakukan dan berproses. Dari 69 SPPG di Maluku, 16 yang sudah mendapat sertifikat,” tandas Kadis Kesehatan ini.

Kendati begitu,
sembari mengaku, masih perlu dievaluasi terkait standar gizi sesuai panduan.
Dia menambahkan selama ini di sejumlah rumah sakit di daerah, paling tidak disediakan 100 paket makanan bagi pasien, itu saja sudah butuh tenaga dan keahlian untuk menyediakan menu bergizi, apalagi kalau menyediakan makanan nergiI dan higienis untuk 3000 siswa. Ini bisa dibayangkan bagaimana jadinya (?).
Oleh karena itu, perihal ini perlu dievaluasi semua pihak. Bila perlu, pihak pengelola MBG harus dilatih agar mereka dapat menangani MBG dengan baik dan benar.

Untuk itu, pihaknya telah menyediakan Balai Pelatihan Kesehatan (Bapelkes) untuk melatih keterampilan para penyedia MBG. Dan itt harus dilakukan agar nantinya mencegah hal-hal yang tak diinginkan. Sehingga bagian pihak yang sudah mengikuti pelatihan akan diberikan sertifikat sesuai standar Kementerian Kesehatan. (****)