Kunjungi Lahan Ketahanan Pangan di Dusun Melati, Kadistan SBB Minta Petani Semangat dan Kerja Keras

Oplus_131072

MediatorMalukuNews.com_ Lahan Ketahanan Pangan di Dusun Melati, Desa Waisala, Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB) dikunjungi Kepala Dinas Pertanian (Kadistan) SBB, Ibrahim Tuharea, belum lama ini.

Meskipun dalam kegiatan pembukaan lahan ketahanan pangan di sejumlah lokasi di Kabupaten SBB, tokoh masyarakat SBB, Mansur Tuharea kurang mendapat dukungan dari Pemda SBB tetapi kehadiran Ibrahim diharapkan menjadi harapan atas perhatian Pemda SBB terhadap kegiatan – kegiatan nyata di lapangan.

Dalam video yang dikirimkan ke media ini, Sabtu (17/1/2026) Kadistan SBB mengungkapkan, program 1000 Ha untuk lahan ketahanan pangan dari pihak Kementerian Pertanian – RI.

“Saya melakukan pengecekan dan turun langsung di lapangan, dan melihat kesediaan masyarakat melalui kelompok tani – ada kurang lebih 16 hektar yang disiapkan,” cetusnya.

Menurut Ibrahim, upaya percepatan pengembangan ketahanan pangan disampaikan ileh Gubernur Maluku maupun Bupati SBB lewat program agromarine yang kuncinya adalah semangat dan kerja keras dari petani.

“Tanpa ada semangat, maka tanggung jawab selaku kepala keluarga dan masyarakat untuk untuk meningkatkan daya saing pangan tentu tidak akan terjawab” kata Ibrahim.

Baca juga :   Dukung Kenyamanan Komunikasi di Tanah Suci, Kini Paket RoaMAX Umroh Hadir

Sementara salah satu penyuluh pertanian mengatakan, menindaklanjuti kegiatan Swasembada Pangan yang diinisiasi Presiden Prabowo bersama Menteri Pertanian, maka pihaknya di lapangan harus berkolaborasi dengan para petani untuk mempertahankan ketahanan pangan yang ada.

“Swasembada Pangan yang tercapai ini, artinya jangan sampe untuk tahun – tahun depan dia bisa menurun, tetapi dia bisa bertambah. Artinya, demi kesejahteraan masyarakat Indonesia pada umumnya, khususnya masyarakat Dusun Melati” ujarnya.

Koordinator Kelompok Tani Berkah, Ali Isa mengungkapkan, lahan pertanian di Dusun Melati ini punya nilai sejarah tersendiri, dimana lahan ini pada tahun 1980-an adalah lahan Padi Gogo.

“Semua orang dari pesisir sana, dari Temi, Limboro, Lirang pada datang di sini untuk panen Padi Gogo. Jadi, kita memang bukan hal yang baru untuk menanam Padi Gogo di sini, tetapi memang punya nilai sejarah tersendiri. Jadi sekarang kita mau kembalikan sejarah itu,” urai Ali Isa.

Dia berharap, para kelompok tani di Dusun Melati dapat berkoordinasi maupun berkolaborasi dengan Pemerintah Daerah SBB, Pemerintah Provinsi Maluku, maupun Pemerintah Pusat sehingga memberikan semangat serta bantuan alat pertanian dan bagi pengembangan ketahanan pangan di Dusun Melati.
(Nicko Kastanja).