Diplomasi Cerdas Gubernur Hendrik Lewerissa, Gebrakan “Non-Budget” Mengubah Keterbatasan Menjadi Daya Tarik

IMG-20261104-WA0011

MediatorMalukuNews.com_ Tokoh Pemuda Maluku, L. Aristivane Matitaputty menyatakan, video pendek berdurasi tiga menit tentang Promosi pariwisata Maluku di Bali bukan sekadar jualan destinasi, melainkan sebuah manuver geopariwisata yang cerdas dan penuh makna. Narasi dalam video tersebut menegaskan bahwa Maluku memiliki kekayaan alam, budaya dan sejarah yang luar biasa. Dan melalui kegiatan ini, Maluku berharap dapat dikenal lebih luas serta mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional.

“Kalimat penutupnya, “Dari Bali, mari bersama memperkenalkan Maluku sebagai Negeri Rempah yang kaya akan potensi dan kebanggaan Indonesia”, adalah kunci untuk memahami kedalaman strategi di baliknya.”urai Matitaputty.

Menurut Pemuda asal Kota Ambon itu, langkah Gubernur Hendrik Lewerissa patut diapresiasi bukan hanya karena tujuannya, tetapi karena cara yang dipilih.

Promosi di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali pada 31 Oktober hingga 2 November 2026, dilakukan melalui kolaborasi dengan Bank Mandiri dan Bea Cukai tanpa membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
Ini adalah bentuk kecerdasan fiskal dan diplomatik yang jarang ditemui.

Di tengah keterbatasan anggaran daerah, Gubernur tidak menjadikan itu sebagai alasan untuk berdiam diri. Ia justru memanfaatkan fasilitas dan jejaring mitra strategis, sebuah leverage yang mengubah ruang komersial di bandara internasional menjadi etalase budaya dan potensi Maluku.

Baca juga :   Selain Potensi Wisata, Pulau Osi Miliki Potensi Perikanan Menjanjikan

Pemilihan Bandara Ngurah Rai bukan tanpa alasan. Bali adalah pintu masuk utama wisatawan mancanegara ke Indonesia. Dengan menempatkan Maluku di sana, Gubernur secara cerdas “menumpang” pada arus kunjungan global yang sudah mapan, bukan membangun arus baru dari nol. Ini adalah strategi berkelas yang memungkinkan Maluku menjangkau audiens internasional secara langsung, tanpa harus mengeluarkan biaya besar untuk kampanye mandiri di luar negeri.

Menurut Matitaputty, yang membuat langkah ini sangat dalam adalah narasi yang diusungnya. Video tersebut dengan tepat menyebut Maluku sebagai “Negeri Rempah”. Ini bukan sekadar slogan wisata. Maluku adalah titik nol dari sejarah globalisasi rempah-rempah, pusat peradaban maritim yang menghubungkan Timur dan Barat selama berabad-abad. Dengan mengangkat identitas ini, Gubernur tidak hanya menjual keindahan alam, tetapi juga menjual sejarah, peradaban, dan nilai perjuangan bangsa.

“Ini adalah bentuk storynomics tourism tingkat tinggi. Maluku tidak diposisikan sebagai “Bali kedua” atau destinasi pantai biasa, melainkan sebagai destinasi dengan kedalaman sejarah yang tak tertandingi. Video tersebut juga menyinggung potensi Maluku untuk “berkembang serta bersaing”, yang mengisyaratkan bahwa promosi ini adalah bagian dari upaya pembangunan ekonomi yang lebih luas, bukan sekadar retorika pariwisata” cetusnya.

Baca juga :   Jelajahi Rute Baru, Bandar Udara Pattimura Ambon bersama Lion Air Luncurkan Rute Amq - Sub.

Manuver di Bali ini bukanlah gerakan tunggal. Ia adalah bagian dari arsitektur strategi yang lebih besar. Gubernur Hendrik Lewerissa sebelumnya telah meluncurkan Calendar of Event (CoE) 2026 dengan 47 agenda wisata yang dirancang sebagai wadah terintegrasi untuk mempromosikan kekayaan bahari, seni, dan budaya Maluku secara berkelanjutan. Pariwisata diproyeksikan menjadi penggerak utama ekonomi daerah yang berdampak langsung pada kesejahteraan UMKM, komunitas seni, dan ekonomi kreatif.

Pria yang sering disapa Bung Aris ini mengatakan, dengan demikian, promosi di Bali adalah pintu masuk bagi wisatawan untuk kemudian datang ke Maluku dan merasakan langsung 47 agenda tersebut. Ini adalah strategi funnel yang utuh, dari kesadaran (awareness) di bandara internasional, menuju ketertarikan (interest) melalui informasi destinasi, hingga akhirnya konversi berupa kunjungan nyata yang menggerakkan ekonomi lokal.

Promosi pariwisata yang cerdas bukanlah tentang seberapa besar anggaran yang dikeluarkan, melainkan seberapa dalam makna yang ditawarkan dan seberapa tepat jejaring yang dimanfaatkan. Gubernur Hendrik Lewerissa telah menunjukkan bahwa Maluku tidak hanya ingin “dikenal”, tetapi ingin diakui sebagai bagian dari narasi besar Indonesia di mata dunia sebuah narasi tentang rempah, maritim, dan peradaban yang tidak dimiliki oleh daerah lain.

Baca juga :   Dinilai Tak Objektif, Kontingen Malra Protes Hasil Pesparawi XI

Dari Bali, Maluku tidak sekadar menumpang popularitas. Maluku sedang menenun takdirnya sendiri, mengubah lorong-lorong bandara menjadi jalan setapak menuju Seribu Pulau, dan mengajak dunia untuk tidak hanya melihat, tetapi memahami bahwa di timur Indonesia, ada sebuah negeri yang telah lama menjadi pusat peradaban, dan kini siap menyambut dunia dengan cerita yang tak pernah usai.(Nicko Kastanja)