Apresiasi Intervensi Langsung Ketua TP- PKK SBB Turunkan Angka Stunting, Kadiskes SBB Nyatakan Angka Prevalensi Tinggi Sebab Tak Diverifikasi Ulang

IMG-20261104-WA0009

MediatorMalukuNews.com_ Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB), Gariman Kurniawan mengapresiasi langkah yang telah ditempuh Ketua Tim Penggerak (TP)- Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga ( PKK) SBB, Yeni Rosbayani Asri dalam usaha pencegahan dan pengurangan angka prevalensi stunting di Kabupaten SBB.

“Apa yang telah dilakukan oleh Ketua TP PKK SBB dalam mempressure tingginya angka prevalensi Stunting di Kabupaten SBB wajib kita appresiasi, dimana tadi itu Kita baru saja baru selesai menggelar Pembukaan Kegiatan Pembinaan Posyandu Bidang kesehatan, dimana beliau ( Ketua TP- PKK SBB) memberikan arahan supaya bagaimana kita lihat itu secara bersama- sama, mengejar katong punya ketertinggalan dalam menurunkan angka stunting ” urai Kadis yang ditemui di kantornya, Dinas Kesehatan SBB, jalan Trans Seram, Dusun Tanah Missi, Piru, pusat ibukota Kabupaten SBB, Selasa (3/11/2026).

Menurut Kurniawan, Angka prevalensi stunting SBB di Tahun 2024 menurut SSDI berada pada 34, 8 %, tetapi di Tahun 2025 angkanya menjadi fluktuatif dan penilaiannya menjadi menurun karena ada beberapa indikator yang harus dikejar di beberapa Puskesmas.

Baca juga :   Bekas Bangunan Milik PUPR di SBB Bakal Jadi Kantor KDMP Desa Waimital

Kurniawan mengatakan, karena persoalan itu terjadi di sejumlah Puskesmas, maka menjadi tanggung jawab Pemerintah Desa untuk bisa turut berkontribusi bagi peningkatan ini kesehatan Masyarakat terutama Ibu dan bayi.
Pasalnya, Pemerintah Desa juga memiliki kader – kader Posyandu yang peranannya harus nyata sesuai dengan Permendagri No 13 Tahun 2024.

Kadis Kesehatan SBB ini juga mengungkapkan, pihaknya juga berkontribusi di bidang kesehatan untuk membantu Posyandu untuk mencegah stunting dari sisi melihat kondisi lingkungan rumah dan dan status gizi Balita itu yang sama- sama dilakukan oleh Dinkes dan Pemerintah Desa melalui Posyandu.

Menurut Kadis, data yang ditarik dari sistem melalui data aplikasi PPBGM Kementrian kesehatan yakni data yang dirilis tahun ini, ada beberapa data yang dianggap tidak sesuai, dimana proses pengukurannya tidak ada tetapi nilai pengukurannya ada, ketidaksesuaian ini terjadi karena, input data dari Kader Posyandu tidak melalui verifikasi ulang oleh penanggung jawab gizi di tingkat Puskesmas.

“Karena data diinput mentah – mentah ke sistem, sehingga kita punya angka prevalensi sebenarnya belum ada , kalau ada penurunan itu hanya sekitar angka 29% saja” cetusnya.
Untuk itu, pihaknya mempressure untuk Puskesmas melalui penanggung jawab gizi dan penanggung jawab Promkes yang membawahi Posyandu itu, supaya Mereka bisa melihat itu sebagai suatu PR yang harpus diselesaikan.

Baca juga :   Jabatan Kasatresnarkoba dan Kasatlantas Polres Tual Dirotasi

Disingung terkait intervensi yang dilakukan oleh Ketua TP- PKK SBB, Kurniawan mengungkapkan, intervensi yang dilakukan sangat berdampak termasuk raihan penghargaan Penerapan SPM di Bidang Kesehatan terbaik di Indonesia Timur.

“Karena beliau punya perhatian khusus untuk bagaimana menurunkan angka stunting di SBB, makanya perhatiannya itu dilaksanakan melalui kegiatan- kegiatan Posyandu, karena beliau merupakan ketua Pembina kegiatan Posyandu di Kabupaten SBB” urainya.

Kurniawan mengatakan, dalam beberapa kesempatan, Ketua Tim PKK SBB turun ke wilayah kepulauan di Kabupaten SBB adalah membawa bantuan makanan bergizi bagi Ibu dan anak itu, ada beberapa bantuan itu adalah bantuan kontribusi dari dana pribadi isteri Bupati SBB, memang ada bantuan dari Pemda dan Dinas Kesehatan SBB.

“Jadi Kita kolaborasi dalam hal program penurunan stunting di Kabupaten SBB” cetusnya.(Nicko Kastanja)