Proyek Pembangunan Tiga RKB SD Inpres Herley MBD Terbengkalai, Kontraktor Pelaksana Diduga Sibuk Urusan Caleg

IMG-20240125-WA0010

MediatorMalukuNews.com –  Pembangunan Tiga Ruang Kelas Baru (RKB) SD Inpres Herley yang berada di Kecamatan Pulau Wetang, Kabupaten Maluku Barat Daya (MBD) diduga tak beres, lantaran proses pembangunan sarana pendidikan sekolah dasar ini disebut – sebut terbengkalai alias mandek beberapa waktu lamanya.

Diduga kontraktor yang menangani proyek ini sibuk urusan bertanding menjadi Calon Anggota Legislatif (Caleg).

proyek yang diduga bernilai hampir setengah miliar itu, sesuai informasi yang diperoleh, oknum kontraktor tak peduli menangani proyek ini Diduga dia belum enggan menyelesaikan proyek sarana pendidikan ini lantaran dia lebih senang memilih bermain di dunia politik sebagai calon anggota legislatif ketimbang mengerjakan proyek dimaksud.

Informasi lain yang dihimpun di lapangan, menyebutkan, terhentinya proyek ini disebabkan kontraktor bersangkutan sejak awal Oktober 2023 sudah meninggalkan lokasi Pekerjaan dan memilih kembali ke Tepa, ibukota Kecamatan Pulau Babar yang merupakan lokasi kediaman-nya untuk urusan politik.

” Katong ( kami) untuk sementara belum melanjutkan pekerjaan ini karena Material Semen dsn pasir sudah habis’,” Lapor beberapa pekerja proyek tiga RKB SD Inpres Herley kepada wartawan di lokasi pekerjaan, tepatnya di Desa Harley, Kecamatan Wetang MBD baru- baru in.

Oknum karyawan yang enggan mempublikasikan namanya membeberkan,
sesuai kesepakatan kerja antara pihak Kepala Tukang proyek, Ely Yotlely dan Kontraktor pelaksana, Yusuf Laipeny, disepakati bahwa bila pekerjaan proyek tiga RKB ini selesai mereka (Para pekerja) dibayar sebesar Rp 60 juta.

Baca juga :   OJK Maluku Dorong Literasi dan Inklusi Keuangan Lewat Moluccas Financial Day 2025 di Masohi

” Bapa Kepala tukang dan kontraktor sudah sepakat mulai dari pembuatan pondasi sampai selesai kerja, kita dapat biaya Rp 60 juta. Tetapi sudah sekian lama ini material untuk pembangunan tak disuplai sehingga proyek tak jalan” urai pekerja tersebut.

Mereka mengaku dari kesepakatan besaran biaya kerja biaya tukang, separuh dana sudah dipanjar pihak kontraktor pelaksana.

Kendati begitu, para pekerja proyek mengaku juga bahwa pihak kontraktor ini juga diduga tak becus menangani pekerjaannya. Sehingga mereka menjadi pusing karena melibatkan pihak lain soal pinjam meminjam bahan material kerja.

Buktinya kontraktor pinjam sejumlah semen dan papan milik warga Desa Herley. Tapi hingga kini belum diganti.

” Dia (kontraktor) pinjam semen dan papan warga tapi belum kasih kembali. Dia (kontraktor) pergi dan belum kembali sampai sekarang,” ungkap oknum pekerja tersebut.

Disinggung soal besaran keseluruhan nilai anggaran pembangunan proyek tiga RKB itu, mereka mengaku tidak mengetahui persis jumlah nilai proyek, tapi mereka menduga proyek ini ditaksir nilainya kisaran ratusan juta rupiah hingga setengah miliar rupiah. Karena tak ada papan proyek yang dipajang di lokasi kerja.

Baca juga :   Kades Wasarily MBD Ancam Bunuh Wartawan Soal Pemberitaan Dugaan Korupsi ADD

” Yang kami tahu hanya biaya kerja, sementara keseluruhan anggaran kami tidak tau karena kontraktor tidak pasangan papan proyek.
Padahal seharusnya kalau ikut aturan mestinya papan proyek dipancang pada lokasi pekerjaan karena proyek ini dibangun pakai uang negara, tetapi faktanya, itu- tidak dilakukan kontraktor sehingga kami bingung ketika ada yang datang tanya, seperti bapa wartawan begini, Katong (Kami) Bilang apa adanya yang Katong tahu,” beber pekerja tersebut.

Kepala SD Inpres Herley, Brampy Mailera yang dikonfirmasi tidak berada di tempat.

Selanjutnya dihubungi via whatshap miliknya, laki-laki ini berdalih tak punya waktu meladeni wartawan, dia bilang masih lagi sibuk berikan materi pelajaran kepada siswa di sekolah.

“Saya masih sibuk kasih materi pelajaran bagi siswa soal pembelajaran menggunakan sistem digital jadi saya agak pusing dan sibuk. Belum ada waktu untuk itu,’ jawab Kepsek Mailiera.

Disinggung lagi soal berapa besar anggaran pembangunan proyek tiga RKB, Kepsek memilih tutup mulut dan diam seribu bahasa.

Beberapa pihak menduga Kepsek Mailiera mengetahui seluk beluk soal pekerjaan proyek yang berada di sekolahnya tetapi kepsek ini diduga “bermain akal-akalan,” untuk tidak diberitahukan kepada publik. Mengingat uang yang dipergunakan ini adalah uang negara yang wajib dipantau dan diketahui oleh masyarakat.

Baca juga :   Kolaborasi Siloam Hospital Ambon dan Jasa Raharja Tingkatkan Layanan Perlindungan Lakalantas

Mereka mendesak pihak berwajib menyoroti persoalan tersebut sehingga anak didik di sekolah ini tak dirugikan, begitupun uang negara yang digelontorkan pemerintah untuk membangun lembaga pendidikan dasar di pulau terluar yang berbatasan dengan negara Kanguru itu, tak hilang percuma “dimakan rayap.”

Secara terpisah salah satu sumber mengaku sangat kenal dengan aksi “sepak terjang” kontraktor bersangkutan bersama Kepala Tukang, Ely Yotlwly.

Sumber mengaku, pihak kontraktor pelaksana adalah Yusuf Laipeny.
Dia yang mengerjakan proyek tiga RKB SD inpres Herley.

Yusuf Laipeny berdomisili di kota Tepa.

Saat ini dia sedang asik kejar tayang bekerja di dunia politik dan tak mau ambil pusing dengan lanjutan kerja proyek tiga RKB sekolah tersebut.

“Laki -laki itu (Yusuf Laipeny) ada ikut Calon Anggota Legislatif (Caleg) dari Partai PKB Dapil 3 ( Pulau Babar, Damer),” beber sumber tersebut.
( Koko _ Ebeth).