Malra Harusnya Tak Perlu Import Beras

IMG-20240711-WA0060

MediatorMalukuNews.com – Deputi Bidang Pengembangan Regional III Bappenas RI, Ika Retna Wulandary mengatakan, seharusnya Kabupaten Maluku Tenggara (Malra) tidak perlu mengimpor Bahan Pokok (Bapok) berupa beras dari luar daerah.

Hal itu ia sampaikan saat memberikan materi dalam kegiatan Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrenbang) Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) 2025-2045 di Aula Kantor Bupati Malra, Rabu (10/7/2024).

Menurut Wulandary, Malra sudah punya makanan pokok pangan lokal “enbal” atau singkong, dan hanya perlu mendapat perhatian serius dari Pemerintah Kabupaten setempat.

“Karena Maluku Tenggara ini wilayah kepulauan, kami merasa, kita mengembangkan apa yang sudah ada di sini. Sehingga tidak perlu impor lagi. Yang sudah ada di sini bisa kita kreasikan, kita kemas sedemikian rupa,” kata Wulandary merujuk pada pangan lokal enbal.

Dia menambahkan, pangan lokal enbal juga punya manfaat lebih baik dari segi kesehatan, yakni berkaitan dengan masalah kesehatan obesitas atau berat badan lebih.

“Ke depan, Indonesia menghadapi permasalahan obesitas. Dengan demikian, kita perlu menjaga juga kesehatan kita, makanan kita. Singkong atau enbal ini sangat baik untuk menjaga kesehatan,” kata Wulandary.

Baca juga :   Kapolres Malra Bersama Aparat Gabungan Lerai Tawuran Dua Kelompok Pemuda

Diakui dia dan rombongannya sudah berada di Malra selama empat hari, mulai Minggu, 7 Juli lalu. Sejak tiba, ia hanya mengonsumsi enbal.

“Dari awal saya datang, saya makan enbal. Bapak/Ibu. Enbal dengan kelapa. Itu sangat nikmat, bagi saya. Apalagi kalau dengan ikan kua kuning, dan pakai sambal,” ujar Wulandary disambut tepuk tangan meriah dari peserta.

Dari segi ketahanan pangan, Wulandary berharap Pemkab Malra mendorong masing-masing rumah tangga mengembangkan enbal. Sehingga ke depan, makanan pokok masyarakat Malra ini bukan lagi sebagai makanan pengganti nasi, tetapi menjadi sumber karbohidrat utama.

Selain itu, Wulandary juga menjelaskan bahwa, manfaat enbal dari sisi pariwisata. Menurut dia, enbal yang diolah dan dikemas sedemikian rupa dapat menjadi produk ole-ole khas daerah yang dapat menambah nilai jual pariwisata di daerah julukan ‘Larvul Ngabal’.

Ia kemudian mencontohkan makanan khas warga Korea Selatan yang terkenal, yaitu kimci atau kimchi. Makanan tradisional Korea berupa asinan sayur hasil fermentasi dengan bumbu pedas. Makanan ini awalnya biasa saja, tetapi kemudian dikemas sedemikian rupa untuk kebutuhan pariwisata, hingga akhirnya terkenal di dunia.

Baca juga :   Pemkab Malra Pertahankan Predikat Opini WTP Laporan Penyajian Keuangan Sembilan Kali

“Dari awal saya datang, saya makan enbal. Bapak/Ibu, enbal dengan kelapa itu sangat nikmat bagi saya. Apalagi kalau dengan ikan kua kuning, dan pakai sambal,” timpal Whulandary.(Al)