Ancam Istri dan Anak di Larat, Pengusaha BBM ini Dilaporkan ke Polisi

IMG_20240720_222507

MediatorMalukuNews.com – Merasa istri dan anaknya mendapat ancaman kekerasan fisik dari RT, pria tua berusia 62 tahun yang berprofesi sebagai pengusaha Bahan Bakar Minyak (BBM) di Larat, ibukota Kecamatan Tanimbar Utara (Tanut), Kabupaten Kepulauan Tanimbar, akhirnya ST (41) mendatangi Sentra Pelayanan Kepolisian (SPKT) Polsek Larat, dan melaporkan pengusaha tua itu – untuk diproses secara hukum.

“Saya sudah melaporkan saudara RT ke Polsek Tanimbar Utara karena dia ancam beta (Saya) punya bini dan anak-anak serta karyawan. Dan ancamnya ini sudah yang ketiga kali. Sehingga ini benar-benar membuat anak dan istri saya ketakutan dan trauma. Jadi saya lapor dia,” ujar ST melalui sambungan telepon, Sabtu (20/7/24).

ST yang juga berprofesi sebagai Pengusaha BBM di Larat ini menceritakan ancaman kekerasan yang dilontarkan RT kepada istri dan anaknya muncul ketika ada kegiatan bisnis. Dan saat itu mereka bertemu di Pelabuhan Larat untuk menjemput jerigen- jerigen minyak yang kosong dari warga yang menyeberang dengan motor laut bernama KM. Kembar Jaya dari Desa Sofyanin, Kecamatan Pulau Fordata, Jumat 19/7/24) siang.

“Tiba-tiba RT datang mengamuk ala cowboy Texas di toko saya dengan suara keras, dan memberikan peringatan bila saya masih menjemput jerigen kosong di hari Senin nanti dari motor laut, maka dia ancam akan membakar toko saya” beber ST.

Baca juga :   Wujudkan Keselamatan Berlalulintas, Jasa Raharja Maluku Gelar Rapat

Tak hanya itu, lanjut ST ancaman kekerasan juga disampaikan RT kepada karyawannya yang berinisial YF (21). Dengan nada tegas dan mengancam, kata ST, pria tua itu mengingatkan bahwa, bila satu kali lagi mengambil jerigen di motor laut maka dia (RT) bakal memukul dan membuang tubuh YF, karyawannya itu ke laut.

Ditambahkan, supir pribadi ST berinisial S (50 tahun) juga tak luput dari ancaman pria tua bertemperamen kasar tersebut. Bahkan kata ST, RT mengancam akan membakar mobilnya bila supir pribadinya itu berani mengambil jerigen di motor laut.

ST katakan, ancaman tindakan kekerasan yang dilontarkan pria tua itu kemungkinan diduga dilatarbelakangi motif persaingan usaha.

Dia mengaku kesal sebab bilamana motif seperti itu, seharusnya RT tak perlu main ancam kekerasan fisik.
” Itu kan terserah pembeli mau beli minyak dimana dan dari siapa, itu adalah kewenangan pembeli,. Itu baru nama persaingan yang sehat,” tandas ST.

Lebih lanjut ST menceritakan, masyarakat yang berasal dari Desa Sofyanin sudah lama berlangganan dan sering meminta kepada dirinya untuk mengisi BBM di sejumlah jerigen yang dibawa dari Desa Sofyanin untuk nantinya dibayar dengan uang, tetapi sering juga ditukar dengan hasil bumi berupa kopra.

Baca juga :   Petani Sayur Gagal Panen Akibat Kemarau, Dinas Pertanian Tanimbar Diminta Turun Tangan

“Kami punya pelanggan AN (60 tahun) dari desa Sofyanin sempat hubungi istri saya via WhatsApp untuk jemput jerigennya di motor laut KM. Kembar Jaya yang sementara menuju ke pelabuhan Larat” katanya

AN yang dikonfirmasi membenarkan bahwa dirinya yang menghubungi istri ST menjemput jerigen-jerigen milik AN, maka istri ST dan karyawannya menjemput jergen-jerigen itu saat KM. kembar Jaya meraoat di Pelabuhan Larat.

“Saya biasanya berlangganan minyak BBM di istri ST, bukan di RT. Makanya yang saya hubungi adalah istri ST. Jadi bila ada terjadi kesalahpahaman maka diatur saja secara baik-baik dan kekeluargaan,” terang AN.

Sementara itu, RT yang dihubungi menjelaskan bahwa dirinya sudah belasan tahun menjual BBM sedangkan ST baru saja melakukan penjualan minyak beberapa tahun belakangan ini, dan warga dari Kecamatan Yaru dan Fordata yang adalah juga warga kampung halamannya sudah lama berlangganan dengan dirinya.

“Yang saya sesalkan mengapa harus menjemput semua jerigen-jerigen di motor laut sehingga saya tidak kebagian untuk pengisian minyak, saya tidak marah bila dia (ST) menunggu jerigen-jerigen itu di tokonya saja jangan menjemput langsung di pelabuhan. Kita kan sama-sama cari makan,” jelas RT dengan nada kecewa.

Baca juga :   Tekad Bawa Perubahan Baru, Ini Kata Ibrahim Banda

RT mengaku tersulut emosi sehingga sempat melampiaskan kata-kata kasat seperti itu, tetapi sesungguhnya dia merasa tak mungkin melakukan seperti apa yang dia katakan.

“Saya sudah peringatkan beberapa kali tetapi tidak dihiraukan, bahkan sudah pernah dimediasi di pihak kepolisian tetapi tidak pernah ditanggapinya. Intinya saya tidak ada sentuh dia atau pukul dia atau membuat kejahatan terhadap dia. Tidak mungkin saya melakukan itu. Saya sebagai purnawirawan TNI tentunya saya juga tahu aturan. Saya hanya resah dan berharap dia (ST) bisa berubah,” imbuhnya. (PF-07)