Pekerjaan Proyek Lab SMAN 11 MBD Bernilai Ratusan Juta Diduga Tak Sesuai Bestek

IMG-20240927-WA0047

MediatorMalukuNews.com_ Pekerjaan Proyek Laboratorium (Lab) SMAN 11 di Kecamatan Pulau Wetang, Kabupaten Maluku Barat Daya (MBD) yang bernilai ratusan juta rupiah diduga tak sesuai bestek, sehingga menjadi sorotan masyarakat.

Dugaan tak sesuai bestek atau tak mengikuti aturan/syarat pelaksanaan teknis pekerjaan proyek ini bukan tanpa alasan, sebab pekerjaan proyek tersebut dikeluhkan sejumlah pihak sesuai laporan sejumlah sumber terpercaya, dan juga melalui hasil investigasi wartawan di lapangan.

Menurut sumber, kalau dasar mengikuti besek merupakan aturan yang mengikat sesuai konstruksi terperinci terkait pembangunan proyek bersangkutan yang.nantinyan dipergunakan siswa mengenyam study di lembaga pendidikan menengah tersebut. Ironisnya, proyek pekerjaan tersebut diragukan kualitas pembangunnya.

Diketahui proyek pekerjaan Lab SMAN 11 Wetang ditangani CV Konami. Proyek ini bernilai Rp.363 juta lebih.

Sejumlah sumber membeberkan mereka mengamati secara langsung dan seksama dengan mata kepala mereka sendiri, ada banyak dugaan proyek tersebut dikerjakan ‘asal-asalan’ tak sesuai bestek.

Disebutkan, salah satu contoh kongkrit, pekerjaan proyek pembangunan Lab Itu, tak sesuai bestek antara lain, tertera penggunaan material berupa besi harusnya memakai ukuran besi 12mm. Padahal fakta membuktikan besi yang dipergunakan berukuran 10mm dan juga ukuran 8 mm. Padahal pada item pekerjaan pengecoran tiang sesuai bestek harusnya menggunakan besi berukuran diameter 12 mm.

Baca juga :   Ketua BPD Wasarily MBD Miskin Data

“Mulai dari pengangkutan material besi, itu hanya mereka beli besi ukuran 10 mili dsn 8 mili saja, bukan 12 mili,” beber sumber yang enggan mempublikasikan namanya kepada wartawan belum lama (Selada 24/ 9/2014)

Sumber mengakui ketika dilakukan pengecoran slop pondasi, disusul pengecoran ‘cakar ayam’ ukuran diameter besi yang dipergunakan ukuran 8 mm dan 10 mm.Dan fakta ini diduga menyalahi aturan bestek yang tertera sebagaimana untuk pembangunan proyek sarana pendidikan dimaksud.

Dikatakan, akibat dari dugaan pengguna diameter besi tak sesuai aturan ini, maka diragukan proyek ini bisa bertahan lama.

Terungkap juga, karena diduga kerja asal-asalan proyek tak sesuai bestek ini diketahui oleh publik,.maka pihak pelaksana proyek mengelabui mata dan berupaya secepat kilat melakukan pengecoran slop pondasi supaya menghindari pantauan warga/publik.

 

Gomes Letsoin mengaku diri sebagai Kepala Tukang ketika dikonfirmasi, kepada wartawan sebelumya berkata kalau proyek Lab tersebut dikerjakan sudah sesuai dengan RAB (Rencana Anggaran Belanja).

“Itu ada RAB proyek. Jadi, sebagai Kepala Tukang, kami atur kerja kepada karyawan sesuai dengan yang sudah tertera pada RAB,” ujar
lelaki tersebut.

Baca juga :   Sat Binmas Polres MBD Gencar Sosialisasi Bullying di SMP Negeri Tiakur

Di lain pihak, sesuai hasil investigasi wartawan, dokumen RAB yang diperoleh, tertera jika untuk proses pengecoran tiang bangunan, dipergunakan besi berdiameter 12 mm, bukan ukuran 10mm atau 8 mm.
Dimana hanya penggunaan ‘behel’ menggunakan besi ukuran 8 mm dengan jarak tiap behel 15 cm.

Sebagaimana diketahui, untuk proyek pembangunan Gedung Lab SMAN 11 MBD itu bersumber dari.penggunaan anggaran Dinas Pendidikan Provinsi Maluku tahun anggaran 2024 bernilai Rp.363 juta lebih atau tepatnya Rp.363.832.431,13,- dimana dikerjakan oleh CV Konami.

Sayangnya, sejak awal pekerjaan proyek tertanggal 16 September 2024, sampai sekarang ini, pihak Kontraktor Pelaksana belum memasang papan proyek di lokasi pekerjaan. Padahal sesuai aturan, jika suatu proyek yang menggunakan uang negara harus dilakukan secara transparan mengingat uang yang dipakai dasarnya bersumber dari.pengambilan pajak kantong masyarakat.

Hasil investigasi wartawan di lokasi proyek, yang nampak terlihat hanya besi ukuran 10 dicampur besi 12 dan 8, sehingga diduga ketika pengecoran ‘slop’ pondasi beserta tiang-nya, menghilangkan besi 10mm dicampur dengan besi 8 mm.
Ini diperkuat lagi dengan sumber berbeda yang mengaku turut serta mengakut sejumlah material pekerjaan proyek dimaksud.

Baca juga :   Pemkot Ambon Ajak GAMKI Jadi Mitra Strategis Pengembangan Program

Sumber ini bilang bahwa dia tidak mengangkut besi ukuran 12 mm untuk diantar ke lokasi proyek tersebut.

Terhadap perihal penggunaan besi.yang tak sesuai bestek tersebut, maka beragam sumber mendesak Pimpinan Koordinator Bidang Pendidikan SLTA Perwakilan Kabupaten MBD terjun langsung ke lokasi proyek dimaksud untuk segera mendesak pihak kontraktor pelaksana memasang Papan Proyek, sekaligus memantau penggunaan material besi untuk pekerjaan proyek Laboratorium tersebut.

Informasi yang diperoleh, ada dugaan oknum dari pihak SMAN 11 yang ditunjuk membantu memonitor atau lakukan pengawasan diduga pura-pura ‘tutup telinga’ mengingat ada memiliki hubungan kekeluargaan dengan sang kontraktor pelaksana sehingga diduga oknum tersebut dinilai terkesan “tidak berdaya” membendung dugaan “kerja kotor” oknum kontraktor bersangkutan.

” Pengawasan dari SMA Negeri 11 MBD yang ditunjuk melakukan pengawasan di Proyek itu adalah ‘Kawanua’ (Saudara atau kerabat/kenalan) dengan kontraktor,” jelas sumber tersebut yang meminta identitasnya tak dipublikasi.

Sementara itu, pihak kontraktor pelaksana dan juga pihak Dinas Pendidikan Provinsi Maluku belum berhasil dikonfirmasi. (Tim).