Lindayati : Tetap Tekun Jaga Warisan Budaya Lewat Karya Tenun

Oplus_131072

Makassar, MMN- Tetap Tekun jaga Warisan Budaya Leluhur, Lindayati seorang perajin tenun asal Kota Makassar, menjadi salah satu contoh nyata pelaku ekonomi kreatif yang berhasil mengangkat warisan budaya lokal ke tingkat nasional.

Perjalanan suksesnya bermula ketika ia mendapat kesempatan dikunjungi langsung oleh Ibu Gubernur Sulawesi Selatan untuk memperkenalkan karya tenunnya semakin terbuka lebar.

“Saya coba masuk ke Dekranasda, dan sejak itu pernah ada kunjungan dari Pangdam serta tamu dari Jakarta. Barang saya bahkan sempat dibeli oleh Ibu Menteri dengan harga Rp7,5 juta,” ungkap Lindayati kepada awak media saat berkunjung di Galerinya, Kamis (9 Oktober 2025) di Makassar.

Lindayati menjelaskan, ada banyak ketertarikan dari berbagai pihak Sampek kolektor dengan tenunku yang dijual dengan harga fantastis.

Ket Gambar : Lindayati, Seorang Penenun Asal Kota Makassar

“Pernah ada yang membeli kain tenun saya seharga Rp10 juta hingga Rp27 juta karena mencari kain lawas,” ujarnya.

Menurut Lindayati, dengan adanya digitalisasi yang berkembang semakin pesat, banyak juga persaingan dalam dunia bisnis, hal ini kami alami. Akan tetapi, hal penting yang perlu dipakai dan digunakan adalah kolaborasi.

Baca juga :   Gerak Cepat, Jasa Raharja Kanwil Maluku Serahkan Santunan Kepada Ahli Waris Korban Meninggal Dunia Di Pinang Putih

“Kita jangan hanya bersaing, tapi bagaimana saling mensupport agar sama-sama maju dan dikenal lebih luas,” katanya.

Lindayati juga sering dilibatkan dalam berbagai kegiatan resmi pemerintah. Produk-produk tenunnya kerap dijadikan souvenir resmi instansi, baik saat kunjungan maupun acara pelantikan. “Harga paling rendah untuk souvenir instansi sekitar Rp1,5 juta, sedangkan dari Pertamina pernah membeli tenun dengan harga Rp6 juta sampai Rp7 juta,” jelasnya.

Salah satu momen berkesan bagi Lindayati adalah saat tampil dalam fashion show di Jakarta pada BI SAFE 2021, di mana ia berkolaborasi dengan desainer lokal Makassar. “Kami tampil dan karya kami muncul di layar utama. Itu kebanggaan luar biasa,” kenangnya.

Selain kualitas kain, Lindayati juga menekankan pentingnya kemasan (packaging) dan cerita di balik produk (storytelling).

“Kalau ikut pameran, kita harus punya cara menarik pelanggan. Cerita di balik kain itu penting, walaupun sedikit, tapi punya makna besar,” tuturnya.

Ia juga belajar dari pengalaman saat mengirim produknya ke Jakarta. “Dulu saya kirim pakai dus air mineral. Sampai di sana, langsung ditelepon karena dianggap kurang layak. Akhirnya Bank Indonesia membantu saya membuat packaging baru dengan desain paper bag dari Malang. Sejak itu, tampilan produk saya jauh lebih profesional,” kisahnya.

Baca juga :   Polri Bongkar Sindikat Judi Online yang Dikendali WNA Cina, Perputaran Uang Capai Rp.685 milyar

Bagi Lindayati, menjaga warisan budaya bukan hanya soal mempertahankan tradisi, tapi juga berinovasi agar produk tetap relevan dengan zaman. “Yang penting itu kualitas, kemasan, dan cerita di baliknya. Kalau tiga hal itu kuat, produk kita pasti bisa bersaing,” pesannya.

Dengan semangat dan dedikasi, Lindayati membuktikan bahwa tenun tradisional dari Makassar tidak hanya memiliki nilai seni tinggi, tetapi juga potensi ekonomi yang besar. Dukungan dari pemerintah, Bank Indonesia, dan Dekranasda menjadi bukti nyata kolaborasi yang mampu membawa UMKM lokal naik kelas. (MMN).