Pemuda dan Kecab Dikmenjur Apresiasi Terobosan Gubernur Maluku Buka Sekolah Kejuruan di Wilayah 3T
MediatorMalukuNews.com_ Salah satu Pemuda Maluku, Lodewijk Aristivane Matitaputty menyatakan, pembangunan seringkali kita terjebak pada euforia proyek fisik megah. Namun paling luput dari sorotan dan fundamental adalah sektor pendidikan.
Di daerah kepulauan yang sarat dengan tantangan geografis ini, Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa menunjukkan kepada masyarakat Maluku bahwa substansi kepemimpinan bukan hanya soal membangun tembok, tapi membangun harapan.
Dalam rentang waktu satu tahun, dari 2025 hingga 2026 terjadi lompatan besar terjadi di kabupaten Seram Bagian Barat (SBB), dimana berdasarkan data terbaru dari Kepala Cabang Dinas Pendidikan Menengah dan Kejuruan, Nofi Marcus Lessil ada satu hal menjadi prioritas dan keberpihakan yang nyata.
Menurut Lesil, pada wilayah yang selama ini berstatus 3T (Terdepan, Terpencil, Tertinggal) seperti Nuruwe, Taniwel Pegunungan, hingga Saluku di Huamual, kini berdiri tiga sekolah baru , yakni SMAN 31 Nuruwe, SMAN 32 Taniwel Pegunungan, dan SMAN 33 Saluku.
Selain itu, di era digital yang menuntut keterampilan presisi, Gubernur juga mengakselerasi pendidikan vokasi dengan melahirkan SMK Informatika Alhilal Kamal, sebagai langkah cerdas yang mengatasi keterbelakangan dengan kemampuan skill.
Langkah Gubernur ini adalah keberanian untuk memastikan anak-anak di pedalaman Pulau Seram tak perlu menempuh perjalanan laut berhari-hari hanya untuk mengenyam pendidikan menengah, tetapi ini adalah strategi cerdas dalam memerangi kemiskinan dan minimnya kecakapan dengan cara mendekatkan sekolah pada mereka yang paling membutuhkan.
Lesil mengungkapkan, kepedulian yang ditunjukkan Gubernur Maluku ini bukanlah sebuah pencitraan. Karena, jika disimak datanya secara akurat, ini adalah grand strategy pendidikan berbasis keadilan, di tengah sempitnya anggaran dan kompleksnya birokrasi, Lewerissa memilih untuk memecah kebuntuan dengan memberikan payung hukum (izin operasional) yang selama ini kerap menjadi kendala klasik di daerah.
Kepala Cabang Pendidikan menengah SBB ini menyebutkan, perhatian khusus itu harus disebut revolusi akses.
“Dalam setahun ini bukan hanya gedung yang lahir, tapi harapan yang dibangun. Gubernur Maluku seakan berkata: Jangan tunggu daerahnya maju baru kita bangun sekolah. Bangun sekolahnya, maka daerah itu akan maju dengan sendirinya” urai Lessil.
Ia pun menambahkan, jika pembangunan fisik adalah denyut nadi ekonomi, maka pembangunan pendidikan di SBB adalah detak jantung peradaban Maluku yang baru. Optimisme ini harus dimulai dari keberanian membuka pintu, bukan hanya gerbang sekolah, tapi pintu kesempatan yang selama ini tertutup. (Nicko Kastanja)
