Trend Kasus Kekerasan Anak dan Perempuan Meningkat di Tanimbar

IMG_20240202_222402

MediatorMalukuNews.com – Trend kasus kekerasan fisik terhadap anak dan perempuan di Kabupaten Kepulauan Tanimbar menunjukan trend angka kenaikan signifikan.

Menyikapi trend kenaikan ini diketahui sejak akhir tahun 2023, hingga awal tahun 2024 oleh pihak Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk Dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kabupaten Kepulauan Tanimbar. Dan untuk hal ini diakui sudah dilakukan pendampingan sebanyak lima hingga enam kali terhadap kasus kekerasan terhadap anak maupun perempuan.

Kepala Dinas DP3AP2KBTanimbar, Elisabeth .I Werembinan sebagai pelaksana fungsi teknis menyatakan, dalam memberikan pelayanan terhadap perempuan dan anak yang mengalami kasus kekerasan pihaknya serius serta gencar melakukan berbagai program kerja dalam rangka meningkatkan pendampingan, sosialisasi, edukasi dan motivasi.

Demikian kata Werembinan di ruang kerjanya belum lama ini (31/1/2024).

“ Untuk Januari saja memang kami sudah disibukkan dengan pendampingan korban kekerasan, dan itu korbannya cukup banyak, ada satu kasus, korbannya bisa tiga sampai empat korban kekerasan anak, jadi memang cukup tinggi, untuk satu kasus pelakunya juga bisa lebih dari satu orang pelaku, ada juga bawaan dari kasus sebelumnya, tidak semuanya di tahun yang ini karena kasus yang belum terselesaikan di tahun 2023 masih ada.” ungkap Elisabeth.

Baca juga :   Wali Kota Tual Buka Musrenbang

Kata dia, belum banyak kasus yang dilaporkan untuk mendapatkan pendampingan, dan pejabat ini akui tenaga staf terbatas, namun memiliki fasilitas lengkap kendaraan mobil perlindungan dari bantuan kementerian, pemeriksaan lapangan menggunakan kendaraan untuk pendampingan dan diberi fasilitas anggaran berupa biaya bahan bakar (BBM), dana konsumsi korban dan anggaran lainnya untuk melakukan penanganan dan pendampingan maksimal dengan metode tertentu, terhadap korban kekerasan anak.

Dia menuturkan, misalnya ada korban yang membutuhkan waktu lebih dari sehari bahkan berminggu-minggu untuk proses hukum ke pihak berwajib, tentunya bisa difasilitasi nginap, dan ini sudah berlangsung sejak Januari tahun 2023 dan sebagian besar korban mendapat kekerasan dalam bentuk fisik, kekerasan psikis, kekerasan seksual, perdagangan manusia, baik itu anak maupun perempuan.

Sambung dia, tahun 2023 sudah tersosialisasi keliling sekolah-sekolah dan bila anggaran sudah jalan, tentunya dimulai lagi dengan sosialisasi ke lapangan, sosialisasi di gereja-gereja, kerjasama dengan para Kepala Desa, sosialisasi terhadap masyarakat untuk memastikan, anak-anak harus tahu bagaimana menjaga diri dan juga sosialisaai terhadap orang tua untuk lebih berhati-hati menjaga serta mendidk dan mengawasi anak-anak supaya jangan jatuh sebagai korban kekerasan anak, betapa pentingnya pendidikan moral, toleransi, taat kepada orang tua, taqwa kepada Tuhan, semuanya terpatri dan menjadi landasan pijak untuk berperilaku.

Baca juga :   Debat Publik Soal Reboisasi HPH Alot, PT.KJB Terancam Diusir Dari Hutan Yamdena Tanimbar

“ Kami butuh edukasi dari semua pihak terhadap masyarakat terutama orang tua menganggap bahwa pendidikan itu adalah di sekolah, padahal 80% pendidikan anak dan pembentukan karakter ada di rumah, anak-anak keluar sampai jauh malam, orang tua tidak peduli dan tidak tanya anaknya dimana
Ini kurang pengawasan orang tua.” tandasnya.

“ Anak-anak perlu diberi motivasi bahwa masa depan masih panjang, jangan hanya terjebak dengan menginginkan hal-hal yg lain, kalau ada orang asing yang menawarkan begitu, harus berpikir bahwa pasti mau menuntut sesuatu yang tentunya merugikan anak-anak, melalui hanphone jangan menerima pertemanan dari sembarangan orang. tegas Elisabeth.

Diakhir pembicaraannya, perempuan ini sampaikan dalam waktu singkat akan dibentuk pilot proyek di tahun 2024 yaitu program Desa Ramah Perempuan dan peduli anak, dicanangkan di beberapa desa sehingga warga masyarakat juga ikut terlibat.

“ Tidak semua hal yang sangat sensitif harus kami ungkap kepada media, namun kami butuh pers dan siaran pers juga sudah cukup eksis untuk banyak kejadian anak yang exposnya cukup intens, kami masih pada bagaimana menangani anak korban kekerasan dengan baik saja, itu yang lebih kami utamakan supaya mereka mendapatkan keadilan.” tutupnya. (Joko)