Harga Melonjak Drastis, Kepala Balitbangda SBB Harap Masyarakat dan Petani Manfaatkan Peluang Kopi Tuni

IMG-20260112-WA0037

MediatorMalukuNews.com_ Penghargaan Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) Indikasi Geografis yang diterima komoditas Kopi Tuni mendapat tanggapan positif Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Balitbangda) Kabupaten SBB, Azis Sillouw.

Saat ditemui di Kantor Bupati SBB, Jalan JF Puttileihalat No1, Kota Piru, Senin (12/1/2025), Sillouw mengatakan, pemberian sertifikat HAKI tersebut menguntungkan para petani. Pasalnya, harga komoditas yang awalnya senilai Rp.90 ribu per kilo di pasaran, merangkak naik menjadi Rp.120 ribu per kilo.

Menurut pria yang disapa Azis ini, masyarakat dan petani kopi di Kabupaten SBB harus bisa memanfaatkan peluang ini, yakni dengan mengembangkan perkebunan Kopi di Kabupaten SBB.

Para petani kopi dan masyarakat di Kabupaten SBB harus memiliki mindset produktif, bukan konsumtif. Pasalnya, sebagai produk minuman populer, komoditas kopi memiliki pangsa pasar luas.

Menurut pria Huamual ini, kopi Tuni yang bijinya meskipun kecil tetapi memiliki cita rasa dan aroma istimewa, adalah tumbuhan endemik asli Maluku. Karena itu, perlu dikembangkan untuk memasuki dan bersaing di pasaran internasional karena memiliki karakteristik tersendiri.

Baca juga :   KPU Malra Pastikan Kesiapan & Kelengkapan Logistik Pilkada 2024

“Masyarakat dan Petani Kopi di Kabupaten SBB harus benar- benar mengembangkan komoditi ini jangan berpikir instan saja, seperti pola konsumtif dengan membeli kopi instan saja, tetapi harus berjuang untuk mengembangkan identitas Kopi Tuni agar bisa bersaing sehingga dapat menaikkan tingkat kesejahteraan mereka, itulah pola pikir produktif yang harus dikembangkan” urai Azis.

Terkait kualitas dari komoditas ini, Azis menyatakan ada Yayasan bernama Yayasan Kopi Maluku pernah mengajarkan masyarakat Waisala mengolah kopi ini agar kualitasnya terjaga.

Pemikiran Kepala Balitbangda SBB ini, merupakan usulan inovatif bagi perkembangan dan kemajuan Kabupaten yang berjuluk Saka Mese Nusa, mengingat harus diakui kabupaten ini memiliki banyak potensi sumber daya alam yang belum tergarap secara baik, sehingga menjadi tugas Dinas Pertanian dan Disperindag naker serta masyarakat untuk saling bahu membahu mengembangkan komoditas ini. (Nicko Kastanja)